NKRI Viral News: Tokoh
Showing posts with label Tokoh. Show all posts
Showing posts with label Tokoh. Show all posts

Tuesday, February 14, 2017

Begini Pesan LUCU Sang Panglima TNI Untuk Prajurit Yang Istrinya Mencoblos...Hehehe


NKRI HARGA MATI - Panglima TNI Jenderal TNI Gatot Nurmantyo menegaskan komitmennya untuk membantu Polri menjaga keamanan Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Serentak hari ini. Gatot pun memerintahkan prajurit TNI jangan terpengaruh politik praktis (Foto Cover: Panglima TNI Jenderal TNI Gatot Nurmantyo).
Baca Juga: Heboh...! Panglima Perintahkan Prajurit TNI Tidur di Rumah Warga, Ada Apa?
Gatot meminta prajurit tak usah ikut komentar soal politik. Nanti malah ribut sama istri yang punya hak mencoblos. Berikan saja kebebasan istri untuk memilih. TNI nggak usah ikut-ikutan.

Komentar Lucu Panglima

"Kamu bilang nomor sekian, sedangkan istrimu bilang nomor sekian lebih bagus. Nanti kamu bisa ribut sama istrimu," kata Jenderal Gatot saat memberikan pengarahan kepada 600 Prajurit Korps Marinir, Selasa (14/2).

Jenderal TNI Gatot Nurmantyo pun kembali serius. Dia menekankan untuk pelaksanaan Pilkada seluruh Prajurit agar siaga satu. Hal ini mengantisipasi apabila terjadi situasi yang tidak diinginkan. 

"Apabila yang menang tidak sesuai dengan keinginan masyarakat tertentu, maka sangat dimungkinkan terjadi keributan. Hal ini dikarenakan sebagian masyarakat Indonesia belum memiliki kesadaran politik dalam melaksanakan pesta demokrasi," katanya.
Baca Juga: JAGOAN TNI AU Marah BESAR..! : Lihat Jenderal Makan DAGING, Prajurit Cuma Dikasih TEMPE
Dia menegaskan jangan ada prajurit TNI yang melakukan langkah berbeda dengan pimpinannya dan jangan ada prajurit TNI yang melanggar dalam bentuk apapun. 

"Netralitas TNI tetap harus di jaga sebagaimana rambu-rambu yang sudah disampaikan dalam Buku Saku Netralitas TNI," tegas Gatot.

Sumber: merdeka.com

Saturday, February 11, 2017

Jawab Sang Jenderal: Yang Sakit itu Soedirman…PANGLIMA BESAR Tidak Pernah Sakit….!

NKRI HARGA MATI - Belanda ingin menghapus Republik Indonesia dari peta dunia dan berkuasa kembali di tanah jajahannya. Tujuan utama mereka menangkap Presiden RI Soekarno dan wakilnya Mohammad Hatta, membubarkan pemerintahan dan menghancurkan TNI. 19 Desember 1948, dalam waktu singkat pasukan Belanda berhasil menguasai Kota Yogyakarta. 

Menit-menit saat negara genting akibat serangan Belanda, Panglima TNI Jenderal Soedirman menemui Presiden Soekarno. Soedirman menghadap dalam balutan mantel dan sandal. Sudah berminggu-minggu panglima tentara ini tidak bisa bangun karena sakit.
Baca Juga: NGERI...! Inilah Yang Akan Terjadi Jika Tahun 1965 PKI Menang di Indonesia.
Soedirman meminta Soekarno ikut gerilya, sementara Soekarno bersikeras tetap tinggal untuk selanjutnya berjuang melalui jalan diplomasi.

Soedirman berpendapat Belanda sudah ingkar janji, tak ada gunanya diplomasi. Sementara Soekarno yakin hanya dengan jalan diplomasi Indonesia bisa mendapat dukungan internasional guna menekan Belanda. Keduanya teguh pada pendapat masing-masing.

Soal perbedaan sikap dan siasat ini wajar terjadi antara pemimpin sipil dan militer. Sejarawan Petrik Matanasi menilai apa yang dilakukan Soedirman bukanlah sebuah pembangkangan militer pada presiden. Lagipula jika Soekarno ikut bergerilya justru akan mempersulit peperangan.

Soekarno pun bisa kita yakini tak sanggup hidup dalam medan gerilya dan sangat mengandalkan diplomasi. Jika Soekarno ikut gerilya, gempuran militer Belanda di bawah Jenderal Spoor akan lebih gila kerasnya. Spoor begitu ingin Soekarno tewas dalam serangan.

Dialog Mengharukan

Cindy Adams dalam biografinya Soekarno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia, menyampaikan dialog antara Bung Karno dengan Panglima Besar TNI Jenderal Soedirman, saat detik-detik agresi militer Belanda tanggal 19 Desember 1948 di Yogyakarta.
Baca Juga: Mengharukan..! Perjuangan Sang Jenderal KURUS Kering, Bermantel LUSUH, dan Berparu-Paru SEBELAH
Dua jam sebelum pendaratan pasukan Belanda, Panglima Besar TNI Jenderal Soedirman, yang masih berumur 30 tahun, membangunkan Bung Karno.

Setelah menyampaikan informasi yang diterimanya terlebih dahulu, Soedirman mendesak Bung Karno ikut dengan dia ke hutan.

Sambil mengenakan pakaianku cepat-cepat, Bung Karno berkata. “Dirman, engkau seorang prajurit. Tempatmu di medan pertempuran dengan anak buahmu. Dan tempatmu bukanlah pelarian bagi saya. Saya harus tinggal di sini, dan mungkin bisa berunding untuk kita dan memimpin rakyat kita semua," kata Bung Karno ketika itu.

“Kemungkinan Belanda mempertaruhkan kepala Bung Karno. Jika Bung Karno tetap tinggal di sini, Belanda mungkin menembak saya. Dalam kedua hal ini, saya menghadapi kematian, tapi jangan kuatir. Saya tidak takut. Anak-anak kita menguburkan tentara Belanda yang mati. Kita perang dengan cara yang beradab, akan tetapi …”

Soedirman mengepalkan tinjunya,” Kami akan peringatkan kepada Belanda, kalau Belanda menyakiti Soekarno, bagi mereka tak ada ampun lagi. Belanda akan mengalami pembunuhan besar-besaran.”

Soedirman melangkah ke luar dan dengan cemas melihat udara. Ia masih belum melihat tanda-tanda, “Apakah ada instruksi terakhir sebelum saya berangkat?” kata dia.

“Ya, jangan adakan pertempuran di jalanan dalam kota. Kita tidak mungkin menang. Akan tetapi pindahkanlah tentaramu ke luar kota, Dirman, dan berjuanglah sampai mati. Saya perintahkan kepadamu untuk menyebarkan tentara ke desa-desa. Isilah seluruh lurah dan bukit. Tempatkan anak buahmu di setiap semak belukar. Ini adalah perang gerilya semesta”.
Baca Juga: Kisah JAGAL Belanda Pembantai TNI dan 40 Ribu Rakyat Indonesia. KEJAM dan BIADAB...!
“Sekali pun kita harus kembali pada cara amputasi tanpa obat bius dan mempergunakan daun pisang sebagai perban, namun jangan biarkan dunia berkata bahwa kemerdekaan kita dihadiahkan dari dalam tas seorang diplomat. Perlihatkan kepada dunia bahwa kita membeli kemerdekaan itu dengan mahal, dengan darah, keringat dan tekad yang tak kunjung padam," kata dia.

“Dan jangan ke luar dari lurah dan bukit hingga Presidenmu memerintahkannya. Ingatlah, sekali pun para pemimpin tertangkap, orang yang di bawahnya harus menggantikannya, baik ia militer maupun sipil. Dan Indonesia tidak akan menyerah!”.

Sebelumnya, Presiden Sukarno menyarankan agar Jenderal Soedirman menjalani perawatan saja karena penyakit Soedirman pada waktu itu tergolong parah.

“Yang sakit itu Soedirman…panglima besar tidak pernah sakit….” Itu jawaban sang Jenderal.

Sementara itu Belanda sudah menguasai Lapangan Udara Maguwo. Sekitar pukul 11.00 WIB, pasukan baret hijau Belanda bergerak memasuki kota. Tujuan mereka menangkap Soekarno-Hatta dan para pejabat RI lain.
Baca Juga: JAGOAN TNI AU Marah BESAR..! : Lihat Jenderal Makan DAGING, Prajurit Cuma Dikasih TEMPE
Tak butuh waktu lama untuk mencapai Istana Negara. Pertahanan TNI yang tersisa terlalu lemah untuk menghentikan gerak maju pasukan komando Belanda pimpinan Letkol Van Beek. Demikian ditulis dalam buku Doorstot Naar Djokja yang ditulis Julius Pour terbitan Kompas.

Setelah melumpuhkan pengawal presiden, baret hijau Belanda mengepung istana. Soekarno keluar menemui pasukan penyerang itu. Overste Van Beek memberi hormat.

"U staat onder huisarrest." Artinya anda sekarang menjadi tahanan rumah. Saat itu tentara Belanda juga menahan Mohammad Hatta, dan hampir seluruh menteri RI.

Belanda merasa menang saat itu. Mereka mengira sudah melumpuhkan pemerintahan Indonesia. Tapi mereka tak berhasil menangkap Jenderal Soedirman. Sebelumnya Kolonel Van Langen mengira Soedirman masih berkumpul di istana bersama Soekarno dan pejabat lain.

Pantang Menyerah

Ternyata saat pasukan baret hijau mengepung Istana, Soedirman telah berangkat untuk memulai perang gerilya. Jenderal yang sakit-sakitan itu pantang menyerah. Soedirman menolak permintaan Soekarno untuk bersembunyi di dalam kota dan menunggu sakitnya sembuh. Dengan paru-paru hanya sebelah, Soedirman menunjukkan tekadnya sebagai panglima pemimpin pasukan.
Baca Juga: Ancaman Hukuman MATI Untuk SANG PEMOTRET Proklamasi Kemerdekaan RI
Pada Soedirman republik yang masih muda ini berharap. Soedirman tak kenal kata menyerah. Dari atas tandu dia membuat pasukan lawan frustasi. Soedirman berjuang hingga Belanda terusir dari Indonesia selamanya.

Monday, February 6, 2017

Teriakan Lantang Sang Letnan: Selama Gitarku Masih Terdengar, Tak Boleh Berhenti MENYERANG...!


NKRI Harga Mati - 1600 orang musuh diporak-porandakan oleh tank, menghujani perkubuan musuh dengan senapan mesin. Aksi ini bak aksi dalam Fury yang pernah populer diputar di bioskop-bioskop Indonesia. Akting Brad Pitt yang menjadi komandan tank saat perang dunia II mendapat pujian para penggemar film perang (Foto Cover: Tank Menembak).

Salah satu adegan film menggambarkan empat buah Tank milik AS menggempur barisan pertahanan tentara Jerman yang diperkuat meriam antitank. Tank-tank Sherman itu menjadi ujung tombak penyerangan sementara pasukan infanteri berlindung di belakang tank.
Baca Juga: Kisah Gerilyawan VIETKONG Suguhi Nasi PECEL Untuk TNI Di Tengah Moncong Senjata Siap Tembak
Kisah bak Film Fury itu juga terjadi di Indonesia. Saat itu pasukan TNI tengah menghadapi pemberontakan Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) tahun 1958.

Dalam sebuah pertempuran, dua batalion (sekitar 1.600 orang) pasukan PRRI bertahan di dataran tinggi Lubuk Bagalung, sebelah selatan Kota Padang. Pasukan TNI diperintahkan merebut pertahanan PRRI.

Letnan Kolonel Pranoto Reksosamodra memimpin serangan tersebut. Dia mengerahkan semua kekuatan milik TNI. Dari arah laut, kapal-kapal perang TNI AL membombardir pertahanan musuh. Sementara pesawat Mustang Angkatan Udara memberikan bantuan tembakan udara menghancurkan perkubuan senapan mesin. Serangan juga dilakukan meriam-meriam artileri.

Namun serangan darat bertumpu pada serangan empat buah tank stuart. Skadron Tank itu dipimpin Letnan Satu Broery, seorang perwira asal Maluku.

Di samping tank-tank itu, pasukan baret merah dan Raider bergerak ikut menghancurkan musuh.

Duduk di atas tank sambil bernyanyi

Letkol Pranoto sangat terkesan dengan keberanian Letnan Broery. Tanpa rasa takut sedikit pun Broery duduk di atas kubah tank sambil main ukulele atau gitar kecil. Dia terus melagukan lagu perang Hela Arumbai selama pertempuran.
Baca Juga: Dor...! Dor...!...Bak Django, Prajurit Sutarmono Robohkan 3 Tentara Belanda di Irian. Heroik...!
"Selama ukuleleku masih bisa kalian dengar, maka skadron kita tidak boleh berhenti menyerang," kata Pranoto menirukan perintah Broery yang jantan pada anak buahnya.

Benar saja, Tank Stuart itu terus menderum maju. Menghujani perkubuan musuh dengan senapan mesin. Hanya butuh dua jam untuk merebut Lubuk Begalung dan menghancurkan dua batalion pasukan PRRI.

Pranoto tersenyum bangga pada Letnan Broery. Dia mencatat sama sekali tak ada korban jiwa di pihak TNI dalam serangan itu.

Pengalaman pribadi Pranoto ini kemudian disunting Imelda Bachtiar dalam Buku Catatan Jenderal Pranoto dari RTM Boedi Oetomo sampai Nirbaya yang diterbitkan Kompas tahun 2014.

"Peristiwa ini sangat berkesan dan satu-satunya pertempuran yang tak pernah kulupakan dalam hidupku," kata Pranoto sambil mengenang Letnan Broery dan lagu Hela Arumbai.

Baca Juga:
Sumber: merdeka.com

Thursday, February 2, 2017

Kisah Golok, Ilmu Rawarontek dan Kesaktian Si PITUNG: Sang JAWARA Melawan Penjajah

NKRI123 - Nama Pitung hingga kini masih menjadi legenda di kalangan masyarakat Betawi. Cerita berkembang hingga kini, Pitung adalah sosok jawara suka membela kebenaran dan membantu rakyat kecil pada zaman pemerintahan Hindia Belanda. Dia dilahirkan di Kampung Rawa Belong, Jakarta Barat sekitar tahun 1866. Nama aslinya, Salihoen. 
Baca juga: [Video] Jadi JAWARA Tak Terkalahkan, Prajurit Kopassus Ini Malah Bingung...!
Pitung memang diketahui lahir di Kampung Rawa Belong. Ayahnya bernama Piung, merupakan asli Banten. Sedangkan ibunya, Pinah, merupakan asli Cirebon. Mereka bertemu dan menikah di Rawa Belong. Dari cerita soal kelahiran Pitung, hanya dialah seorang paling menonjol di kalangan keluarganya. Cerita soal keberadaan saudara kandungnya sangat minim. Wajar jika kemudian banyak yang mengatakan, Pitung merupakan anak tunggal.

Kelahiran Pitung menurut Nunung memang memiliki cerita tersendiri yang kemudian berkembang hingga kini. Kisahnya menjadi jawara bermula ketika dia berguru pada Haji Naipin di Tanah Abang. Pitung saat itu disekolahkan oleh kedua orang tuanya di Pesantren milik Haji Naipin. Di sana, Pitung belajar agama dan beladiri. Bela dirinya pun masih terkenal hingga kini yaitu 'Seni Bela Diri Maen Pukul'.

Pitung memang dibesarkan dan diajarkan oleh kedua orangtuanya dengan ajaran syariat Islam. Selama belajar dengan Haji Naipin, Pitung juga menjadi murid kesayangan karena pintar. 
Baca Juga: Komando..! Komando..! Semua tiarap..! Tiarap!...Detik-Detik Paling MENEGANGKAN Bagi Kopassus. Dunia Terperangah..!
Singkat cerita, setelah dia selesai berguru di Pesantren Haji Naipin, Pitung kembali ke Rawa Belong. Dia kemudian hidup dan membantu kedua orang tuanya. Saban hari, Pitung mengembalakan kambing. Hingga akhirnya suatu ketika, Pitung disuruh ayahnya menjual kambing ke Pasar Tanah Abang. Sebelum berangkat, ayahnya berpesan agar hati-hati, sebab daerah Tanah Abang rawan bandit sama perampokan. 

Kemudian pergilah Pitung ke Pasar Kambing Tanah Abang. Dia pergi sambil membawa dua ekor kambing gemuk untuk di jual. Tak perlu waktu lama bagi Pitung menjual kambing itu. Pembeli pun langsung tertarik karena kambing peliharaannya sehat. Uang hasil jual kambing buru-buru ia simpan dalam bajunya. Kemudian dia bergegas pulang ke Rawa Belong.

Karena waktu panggilan salat tiba, Pitung mampir di sebuah musala. Dia kemudian salat. Namun Pitung tak sadar jika dia dikuntit kawanan pencuri. Uang ditaruh dalam celananya raib. Ternyata, ada dua orang pencuri mengikuti dia dan mengambil uang dari bajunya pitung yang digantung itu.
Baca Juga: Kisah JAGAL Belanda Pembantai TNI dan 40 Ribu Rakyat Indonesia. KEJAM dan BIADAB...!
Sampai di rumah, Pitung habis di maki-maki ayahnya. Uang hasil jualan kambingnya raib. Pitung lalu disuruh kembali ke Pasar Tanah Abang. Dia tidak diizinkan pulang sebelum membawa uang hasil jualan kambing. Karena sudah terlanjur kesal, Pitung kemudian bergegas ke Pasar Tanah Abang. Di sana, dia menemui preman-preman pasar mengambil uangnya. Pitung berkelahi. Dia memenangkan perkelahian dan ditawarkan bergabung dengan kelompok bandit itu. Namun sebagai anak betawi dibesarkan dengan ilmu agama, Pitung menolak. Dia justru menasihati para begundal pasar itu agar lebih banyak menolong orang.

Menjadi "Robin Hood"

Singkat cerita, ketika dia kembali ke kampungnya untuk mengantarkan duit hasil jualan kambing, Pitung justru melihat warga kampung diperas oleh Kompeni Belanda. Dari sanalah kemudian muncul idenya untuk bergabung dengan para perampok di Pasar Tanah Abang. Sejak saat itu Pitung membuat kelompok untuk merampok tuan tanah kaya. Dia kemudian membagikan hasil rampokannya kepada penduduk yang sengsara. Sejak saat itu juga nama Pitung tersohor. 

Dalam catatan surat kabar Hindia Olanda kisah Pitung terekam pada tahun 1892-1893. Pitung dalam koran itu diceritakan sebagai sosok seorang komplotan perampok dan menjadi buronan kelas kakap Polisi Kolonial. Menurut versi lain, seluruh harta hasil rampokan Si Pitung diserahkan untuk kepentingan perjuangan. Dan, bukan untuk dibagi-bagikan langsung kepada rakyat kecil sebagaimana selama ini didongengkan. Maka itulah pulalah, di luar konteks kesaktiannya,  Pitung amat sulit ditangkap oleh Belanda, karena banyak tokoh yang melindungi.

Sejak saat itu juga Pitung kemudian menjadi buronan dengan Messter Cornelis. Dia kemudian memerintahkan Komisaris Polisi Batavia, Scouth Van Heyne untuk menangkap pitung. Bahkan karena sudah bikin tuan tanah takut, sampai ada sayembara penangkapan si Pitung.
Baca Juga: Sekali Poles...! Gembong PKI KEBAL PELURU Ini TUMBANG di Tangan Sang Letnan.
Dalam pelarian, Pitung berlindung dari kampung ke kampung lainnya di daerah Batavia. Beberapa kali pitung nyaris tertangkap. Dengan segala cara, Si Pitung dapat ditangkap dan dijeboskan ke dalam penjara Meester Cornelis pada 1891. Namun, karena kesaktiannya, Pitung pun berhasil meloloskan diri. 

Kesaktian Pitung

Pitung menurut Bachtiar juga merupakan representasi pemuda Betawi saat itu. Dia kerap memakai baju dan celana warna merah serta ikat pinggang khas Betawi. Di ikat pinggang itu juga terselip sebilah golok yang sering dibawa untuk menghadapi musuh-musuhnya. Bahkan ada cerita jika golok itu merupakan senjata sakti milik Pitung. 

Selain golok, Pitung juga memiliki benda sakti lain. Bachtiar menyebut jika sarung sering dibawanya merupakan sarung sakti. Sarung itu juga biasa digunakan si Pitung untuk melakukan ibadah salat. Ada cerita soal kesaktian sarung si Pitung. Jika digunakan untuk melawan penjahat, sarung itu bisa melumpuhkan lawan.

Menurut cerita rakyat yang masih hidup di masyarakat Betawi, salah satu ilmu kesaktian yang dipelajari  Pitung disebut Rawe Rontek. Gabungan antara tarekat Islam dan jampe-jampe Betawi. Dengan menguasai ilmu ini Pitung dapat menyerap energi lawan-lawannya. Seolah-olah lawan-lawannya itu tidak melihat keberadaan Pitung.

Karena itu dia digambarkan seolah-olah dapat menghilang. Menurut cerita rakyat, dengan ilmu kesaktian rawa ronteknya itu, Pitung tidak boleh menikah. Karena sampai hayatnya ketika ia tewas dalam menjelang usia 40 tahun Pitung masih tetap bujangan.

Ada versi tentang kuburannya, katanya badannya dibelah, dikubur di beberapa tempat seperti Jembatan Lima dan Pulau Onrust. Tujuannya, supaya badannya tidak menyatu lagi karena Pitung punya ilmu Rawe Rontek, mati bisa hidup lagi.
Baca Juga: Kisah NEKAT & HEROIK Sang Patriot: Menjemput GUGUR dengan GAGAH Diantara SERPIHAN Kapal Perang

Eksekusi Mati

Pitung akhirnya menyerahkan diri kepada Belanda setelah mengetahui gurunya, Haji Naipin dan kedua orangtuanya dijadikan sandera oleh Schout Van Heyne. Setelah menyerahkan diri, Pitung dieksekusi mati oleh Belanda dengan hukuman tembak.

Menurut koran Hindia Olanda (18-10-1893:2), sebelum ditangkap Pitung dalam keadaan rambut terpotong, beberapa jam sebelum kematiannya pada hari Sabtu. Seperti yang diceritakan dalam legenda, kesaktian Pitung hilang akibat jimat-nya diambil. Versi lain menyatakan, Pitung dapat dikalahkan jika dipotong rambutnya. Berdasarkan koran Hindia Olanda, sebelum kematiannya Pitung telah dipotong rambutnya.

Berdasarkan cerita rakyat versi lainnya, Pitung mati setelah ditembak dengan peluru emas Schout van Hinne dalam suatu penggerebekan karena ada yang mengkhianati dengan memberi tahu tempat persembunyiannya.

Ia ditembak dengan peluru emas  Schout van Hinne (setara Kapolres) karena dikabarkan kebal dengan peluru biasa. Begitu takutnya penjajah terhadap si Pitung, sampai tempat ia dimakamkan dirahasiakan.

Namun cerita soal kesaktian Pitung justru diluruskan oleh Haji Nunung, Sesepuh Kampung Rawa Belong ini menuturkan jika Pitung tidak memiliki kesaktian seperti dalam film. Menurut dia, kesaktian si Pitung merupakan buah dari ajaran agama yang dijalankan. Bahkan Nunung juga mengatakan jika Pitung tidak kebal ditembak dan di bacok oleh musuhnya.

Baca Juga:


Sumber: merdeka.com | metro.news.viva.co.id

Tuesday, January 24, 2017

WAJIB Baca...! Bikin HARU dan LUCU...Inilah Perintah Pertama Soekarno Sebagai Presiden RI.

NKRI123 - Sehari setelah kemerdekaan Republik Indonesia tanggal 17 Agustus 1945, Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) bersidang. Mereka menetapkan Soekarno sebagai Presiden RI pertama dan Mohammad Hatta sebagai wakil presiden RI.

Tidak ada debat sengit dalam sidang di Gedung Road van Indie di Jalan Pejambon itu. Sederhana saja, PPKI memilih Soekarno sebagai presiden.
Baca Juga: Heboh...! Panglima Perintahkan Prajurit TNI Tidur di Rumah Warga, Ada Apa?
Sesederhana itu. Maka jadilah Soekarno sebagai Presiden pertama RI. Namanya negara yang baru seumur sehari, tidak ada mobil kepresidenan yang mengantar Soekarno . Maka Soekarno pun pulang berjalan kaki.

"Di jalanan aku bertemu dengan tukang sate yang berdagang di kaki lima. Paduka Yang Mulia Presiden Republik Indonesia memanggil pedagang yang bertelanjang kaki itu dan mengeluarkan perintah pelaksanaannya yang pertama. Sate ayam 50 tusuk!" ujar Soekarno .

Itulah perintah pertama presiden RI. "Sate ayam 50 tusuk!"
Baca Juga: Sosok WANITA MISTERIUS Pada PAHATAN Api Obor Monas...Ini Sejarah Dan Kisahnya !
Soekarno kemudian jongkok di pinggir got dekat tempat sampah. Sambil berjongkok, Paduka Yang Mulia Presiden Republik Indonesia itu menghabiskan sate ayam 50 tusuk dengan lahap. Itulah pesta perayaan pelantikannya sebagai Presiden RI.

Sumber: merdeka.com

Monday, January 23, 2017

Balada Ketika R.A. Kartini Kepincut Haji Agus Salim Muda


Patriot NKRI - AGUS Salim muda pernah membuat Raden Ajeng Kartini kepincut. Anak pintar yang sebelum masuk ke gelanggang politik, lama jadi wartawan.

Di balik sumbangan besar pemikiran Haji Agus Salim untuk bangsa Indonesia, ada kecerdasannya yang luar biasa. Mohammad Natsir menyebut, kalau hendak menggunakan kualifikasi intelektual brilian pada salah satu putra Indonesia, maka yang paling pertama tepat ialah pada Haji Agus Salim.
Baca Juga: Heboh...! Panglima Perintahkan Prajurit TNI Tidur di Rumah Warga, Ada Apa?
Lahir di Koto Gadang, Agam, Sumatera Barat pada 8 Oktober 1884 dengan nama Mashudul Haq, sohor di rantau dengan nama Haji Agus Salim. Pada tahun 1891, ketika usia Agus Salim menginjak tujuh tahun, dimasukinya sekolah dasar Belanda, yaitu ELS (Europeesche Lagere Scholl) di Bukittinggi. Ketika Agus Salim duduk di bangku ELS, kecerdasan otaknya telah menarik perhatian guru-gurunya orang Belanda, rasa simpati mereka terlihat dengan permintaan ingin membina dan mengarahkan Agus Salim sepenuhnya baik di sekolah maupun di rumahnya.

Namun permintaan tersebut ditolak oleh kedua orang tua Agus Salim. Hanya diizinkannya ketika saatnya makan pagi, siang dan malam, ditambah waktu sesudahnya, boleh tinggal di rumah orang tuanya.

Pada usia 13 tahun, sesudah tamat dari ELS dengan gemilang (1898), Agus Salim berangkat menuju Jakarta melanjutkan sekolahnya. Dengan kapal laut ditinggalkannya kampung halaman, ayah ibunya, dan sanak familinya pergi merantau ke daerah seberang. Selanjutnya dimasukinya HBS (Hoger Burgelijke School),yaitu sekolah menengah Belanda di Jakarta.
Baca Juga: Balada Sang Letnan KEBAL PELURU, MENANGIS Terisak Dipelukan Jendral Soedirman
Dalam tempo lima tahun, Agus salim selesai dan berhasil menempuh ujian di HBS (1903) dengan nilai terbaik sekaligus menjadi juara. Dia adalah siswa terbaik dari tiga HBS di Hindia Belanda ketika itu. 

Saat itu dapat dikatakan hampir tidak ada anak pribumi yang duduk di bangku HBS, terkecuali dari Agus Salim dan P.A.Hoesein Djajaningrat (Doktor pertama di Indonesia), dan yang lain anak-anak bangsa Eropa. Kecerdasan otaknya yang luar biasa diakui oleh gurunya yang juga oleh sarjana-sarjana Belanda. Bahkan menurut ramalan-ramalan gurunya, kelak kemudian hari Agus Salim menjadi orang penting bagi bangsanya.

Sepucuk Surat Kartini

Saat berusia 19 tahun, namanya sudah disebut-sebut. Kecerdasannya membuat Raden Ajeng Kartini kepincut.

“Kami tertarik sekali kepada seorang anak muda. Kami ingin melihat dia dikarunia bahagia. Anak muda itu namanya Salim,” tulis Kartini dalam sepucuk surat kepada Ny. Abendanon, 24 Juli 1903, termuat dalam buku Habis Gelap Terbitlah Terang.
Baca Juga: MANTAP JIWA...! Inilah Deretan Senjata-Senjata LEGENDARIS KOPASSUS. [Nomor 5 Sangat SPESIAL] Kamu Wajib Tahu...!
Agus Salim, lanjut Kartini, “dalam tahun ini (1903–red), mengikuti ujian penghabisan sekolah menengah HBS, dan ia keluar sebagai juara. Juara pertama dari ketiga-tiga HBS!”

HBS singkatan dari Hogere Burger School, sekolah menengah atas lima tahun. Ketiga-tiga HBS yang dimaksud Kartini; Jakarta, Semarang dan Surabaya.

“Anak muda itu ingin sekali pergi ke Negeri Belanda untuk belajar menjadi dokter. Sayang sekali, keadaan keuangannya tidak memungkinkan,” sambung Kartini.

Lulusan terbaik  (HBS) 1903 itu bukan tak berusaha. Pernah mengajukan beasiswa, namun ditolak.

Kartini mengalihkan beasiswa

Kartini mengalihkan beasiswa ke Belanda yang didapatnya dari pemerintah kepada Agus Salim. Pemerintah setuju. Tapi, pemuda yang pandai berbahasa Belanda, Inggris, Arab, Turki, Prancis, Jepang dan Jerman itu menolak.

Rupanya, Agus Salim menganggap cara yang demikian itu adalah penghinaan terhadap dirinya. Akhirnya tawaran itupun ditampiknya seraya mengatakan: "Kalau pemerintah mengirim saya karena anjuran kartini, bukan karena kemauan pemerintah sendiri, lebih baik tidak," dikutip dari buku Tokoh-tokoh Pemikir Paham Kebangsaan. Sejak peristiwa itu, diputuskannya minat untuk tidak melanjutkan sekolah.

Baik Kartini, pun Agus Salim sama-sama tak berangkat ke Belanda. Raden Ajeng kita menikah dan menetap di Jawa lantaran perjodohan yang diatur orang tuanya.

Agus Salim berangkat ke Arab, kerja sebagai penerjemah di konsulat Belanda, sembari berguru kepada Syekh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi, imam besar Masjidil Haram–guru Ahmad Dahlan (pendiri Muhammadiyah) dan Hasyim Asyari (pendiri NU).

Pada 1912 dia pulang kampung ke Koto Gadang. Sempat mendirikan sekolah, tiga tahun kemudian merantau lagi ke Jawa dan memulai karir di bidang jurnalistik.
Baca Juga: Aksi Heroik Dan Menegangkan..! Duel Maut Sampai Mati: Satu Lawan Satu Kopassus vs Gerilyawan PGRS
Wartawan Pergerakan

“Agus Salim diangkat sebagai pemimpin redaksi bahasa Melayu pada Commissie voor de Volkslectuur yang kelak berkembang menjadi Balai Pustaka,” tulis St. Sularto, dalam buku biografi Agus Salim.

Ajip Rosidi dalam Penerbitan Buku Bacaan dan Buku Sastra di Indonesia, termuat dalam Prisma, No. 4, Thn. VII, 1979 menulis, nama lembaga itu dirubah jadi Balai Pustaka atas usul Haji Agus Salim yang bekerja di sana sejak 1917 hingga 1919.

Di samping Balai Pustaka, lelaki yang di kemudian hari mejadi pimpinan Sarekat Islam (SI) itu juga bekerja sebagai redaktur surat kabar Bendera Islam dan redaktur Bataviaasch Niewsblad.

Saat aktif di Sarekat Islam, dia mendirikan dan “menjadi pemimpin redaksi surat kabar Hindia Baroe (Jakarta) dan Fadjar Asia (Yogyakarta) yang didirikannya bulan November 1927 bersama HOS Tjokroaminoto,” tulis St. Sularto.

Agus Salim memainkan perang sebagai juru runding ketika Republik Indonesia baru merdeka. Dia dijuluki diplomat ulung.

Baca Juga: 


Sumber: Merdeka.com | JPNN | Liputan6.com

Friday, January 20, 2017

Balada Sang PAHLAWAN Kemerdekaan RI dari KOREA - YANG CHIL SUNG: Gugur di Ujung Peluru Regu Tembak PENJAJAH. Permintaan TERAKHIRNYA Bikin Merinding...!

Patriot NKRI - SUNGGUH tak banyak lagi diingat orang. Peristiwa tragis seakan harus membatas kehidupan Yang Chil Sung di tegalan “Kherkoff” (“Gelora Merdeka”), Garut. Serdadu asal Korea yang dianggap sebagai tentara Jepang itu gugur, setelah dieksekusi Belanda, 10 Agustus 1949.

Akan tetapi, jasad Yang Chil Sung dibaringkan di balik bumi Taman Makam Pahlawan “Tenjolaya” Garut, dengan gelar kehormatan sebagai pahlawan kemerdekaan. Itu keunikan peristiwa kesejarahan. Seorang serdadu Korea, mendapat pengakuan pahlawan kemerdekaan negeri ini.
Baca Juga: Balada Sang Letnan KEBAL PELURU, MENANGIS Terisak Dipelukan Jendral Soedirman
Kepergian Yang Chil Sung, lalu mengalirkan serpihan kenangan perjuangan yang amat dramatis. Tentu, karena pemerintah Belanda memvonis hukuman mati itu untuk tiga serdadu Jepang, yang berganti nama Indonesia. Mereka terdiri dari Komarudin, Abubakar, dan Usman. Ketiganya aktif membantu aksi gerilyawan kemerdekaan Indonesia.

Namun Komarudin alias Yanagawa Sichisci, diketahui kemudian bernama asli Yang Chil Sung, tentara dari Korea. Hanya Abubakar dan Usman, serdadu Jepang yang bernama asli Hasegawa dan Masashiro Aoki.

Mereka bersama Komarudin, bergabung ke dalam pasukan “Pangeran Papak” Markas Besar Gerilya Galunggung (MBGG) pimpinan Mayor Kosasih, yang bermarkas di Kecamatan Wanaraja, Garut. Dengan pasukan itu pula, mereka pernah ikut tempur dalam peristiwa Bandung Lautan Api.

Eksekusi di Lapang “Kherkoff”, menggores luka dalam hati para pejuang kemerdekaan di Garut. Terlebih bagi R Djuhana, Wakil Komandan Batalyon “Pangeran Papak”. Pejuang ini mengaku, seharusnya menjalani hukuman mati itu bersama mereka.

“Alhamdulillah saya selamat, karena saya bisa berbahasa Belanda! Saya melakukan pembelaan dan perlawanan dulu” tutur R. Djuhana dalam kenangan pertemuan di Ngamplang Garut, 19 Agustus 1995, di depan perwakilan warga Korea.
Baca Juga; Inilah Pasukan Elite TONTAIPUR. Laksana HORNET Raksasa Yang Mematikan...DAHSYAT..!
Saat itu, acara digelar selepas upacara kemiliteran untuk pergantian batu nisan Yang Chil Sung, yang dipimpin Kepala Staf Kodam III/Siliwangi Brigjen TNI Rachmat HS Mokoginta. Sejumlah kawan seperjuangan alm. Komarudin lainnya, seperti H Ajiji, Momod, E Sutisna, Uwe, Endi, Umung serta Sopian, menguatkan kesaksian tentang semangat perjuangan serdadu asal Korea itu. Komarudin pun berjasa, karena turut melatih para pejuang dalam pasukan itu.

Penuturan Kim Tay Wong, perwakilan warga Korea, menyebutkan, Yang Chil Sung pada 1942 bertugas sebagai penjaga tawanan perang tentara sekutu di Korea. Semasa Jepang menguasai Korea sejak 1908, warga Korea dipaksa berganti nama seperti orang Jepang. Lebih dari 1.000 warga Korea, termasuk Yang Ching Sung yang berganti nama Yanagawa Sichisci, dipaksa pula harus turut bertempur di Indonesia.

Namun, setelah Korea merdeka, Yang Chil Sung tak pernah kembali ke negerinya. Kabar yang terumbar kemudian, serdadu itu bermukim dan menikah dengan orang Indonesia. Walau begitu, semangat warga Korea dalam melacak jejak Yang Chil Sung, tak pernah memudar.

Kim pun mengakui, banyak kawan seperjuangan Yang Chil Sung dari pasukan “Pangeran Papak”, turut menyusuri keberadaan almarhum. Lalu, Ushumi Aiko mengungkap identitas pejuang itu di dalam buku Korean Activity under the Equator (1980).
Baca Juga: Menegangkan..! Merebus Sepatu Lars Untuk Dimakan Ketika Merebut Irian Barat
Ternyata Yang Chil Sung diketahui mengamankan dirinya di balik nama Komarudin. Pejuang itu menolak dipulangkan ke negerinya, karena tidak mau menjadi tentara tawanan Jepang. Kesaksian R. Djuhana menuturkan, bahwa Komarudin datang ke Garut bersama tiga orang serdadu Jepang dari Bandung, yang berganti nama Abubakar, Ali, dan Usman – dokter di kalangan perwira Jepang.

Pasukan “Pangeran Papak” dan Hisbulloh pimpinan alm. KH Yusuf Taoziri yang kharismatik, membentengi perkotaan Garut dari serbuan Belanda.

“Setiap digempur musuh, pasukan kami tidak pernah tertangkap” kenang R Djuhana. Itu yang menyulut aksi Belanda mengerahkan kekuatan tempurnya hingga 4,5 batalyon, untuk menyerang pasukan Pangeran Papak yang hanya berkekuatan kurang dari satu batalyon. Pasukan gerilya pun terpaksa mundur.

Belanda menyebarkan mata-mata. Mereka mengintai pasukan gerilya itu, hingga Djuhana, Komarudin, Abubakar dan Usman tertangkap. “Saya masih ingat benar, waktu Komarudin ditawan Belanda itu lewat tengah malam, sekitar pukul 01.30” kata H Ajiji.

Dalam kesempatan terpisah, RS Harisenjaya yang pernah berdomisili di Kp Paminggir, dekat TPU Pasir Pogor Garut menuturkan, menjelang hukuman mati itu seorang petugas sipir dari rumah penjara Garut menjemput Lebe (penghulu).
Baca Juga: [Video] Saktinya Prajurit TNI, Sampai Bikin Tentara Negara Asing Melongo...
Ketiga serdadu Jepang yang dijumpai Lebe selepas Maghrib itu, diketahui mengenakan kampret putih dan kain sarung Cap “Padi” warna merah buatan Preanger Bond Wevery (PBW), yang dikenal kemudian sebagai Pabrik Tenun Garut (PTG).

Dua warna dalam penampilan ketiga terhukum itu, seolah simbol bendera Merah Putih. Mereka menyampaikan permintaan terakhir, agar esok hari setelah hukuman mati, jenazah mereka dimakamkan secara Islam.

Putaran detik jelang hukuman mati digelar,seakan bergulir lebih cepat dan memanggang ketegangan para pejuang. Suasana itu berpuncak pada pagi Pkl 06.00, saat rentetan tembakan terdengar memecah kesepian dari arah Lapang “Kherkoff”, di seberang Sungai Cimanuk.

Warga Kampung Pasir Pogor, lalu melihat tiga keranda berisi jenazah, yang masih terbungkus kampret putih dan sarung merah Cap Padi. Keranda beriringan diusung ke masjid setempat.

Saat-saat eksekusi berlangsung, R. Djuhana mengaku tengah menjalani hukuman seumur hidup di LP Cipinang, Jakarta. Sebaliknya, Eddy Jawan anak tunggal Yang Chil Sung, karyawan MKL Jakarta, baru mengetahui nasib dan kepahlawanan ayahnya, setelah berumur 18 tahun.
Baca Juga: Mengingat Pertempuran Sengit & Berdarah Kopassus Vs Tropaz, Pasukan "Bengis" Didikan Portugal.
“Waktu ayah saya ditembak mati, saya baru berumur satu tahun” kata Eddy Jawan, waktu menghadiri acara pergantian batu nisan almarhum ayahnya.

Usia 3 tahun, Eddy diantar Bik Koyoh yang merawatnya sejak kecil, ke lokasi makam Yang Chil Sung di TPU Pasir Pogor. Eddy mengaku tak pernah tahu lagi nasib Bik Koyoh, yang membesarkannya di Wanaraja, Garut, sampai usia 20 tahun.

Wanita itu pengganti figur ibunya, alm. Ny Lience Wenas, asal Sulawesi, yang menikah lagi di Bandung. Siapa sangka, jika drama kehidupan di balik kepahlawanan serdadu Korea itu, tergelar di tanah Garut.

Kejuangan alm. Komarudin alias Yang Chil Sung, Abubakar dan Usman dihargai sebagai pahlawan kemerdekaan Indonesia. Bukti atas penghargaan itu berupa pemindahan kerangka jenazah mereka dari TPU Pasir Pogor, ke TMP Tenjolaya,19 November 1975.

Putra Yang Chil-sung bersama keluarga dari Korea pada upacara peresmian penggantian nisan Yang Chol-sung, 1995
Kehormatan untuk kepahlawanan itu dikuatkan lagi dengan pergantian batu nisan, yang disaksikan Eddy Jawan, Choi Gye Wol (Pemimpin Kodeco Group), 20 anggota keluarga Yang Chil Sung dari Korea, dan staf Kedutaan Besar Korea Selatan di Indonesia.
Baca Juga: Mengharukan..! Ketika Linangan Air Mata Bung Karno Iringi Tanda Tangan Vonis Mati Untuk Sang Sahabat Karib
Kini, nama Yang Chil Sung terukir pada batu nisan Komarudin. Saat acara pergantian batu nisan, Panglima Kodam III/Siliwangi Mayjen TNI Tayo Tarmadi, dalam sambutan tertulisnya menilai, kejuangan Komarudin cermin bening dan realistis dalam menumpas penjajah dan penindasan, yang mampu melintas batas lautan.

Komarudin pantas mewarnai sejarah perjuangan kemerdekaan. Puncak pengorbanan serdadu Korea itu, tersimpan di dalam perut bumi Garut.

Sumber: Yoyo Dasriyo | fokusjabar.com 

Thursday, January 19, 2017

JAGOAN TNI AU Marah BESAR..! : Lihat Jenderal Makan DAGING, Prajurit Cuma Dikasih TEMPE


Patriot NKRI - Sang jagoan mendapat julukan "orang gila", pemberani, good pilot, penerbang yang cerdik, jenius, orang yang sangat memahami pesawat terbang, sampai julukan "G maniac" yang diberikan oleh penerbang-penerbang pesawat tempur India, karena sangat kagum kepada Leo Wattimena. Penerbang Asing pun "Angkat Topi" dengan jagoan ini, bahkan selama menjadi penerbang telah menyandang segudang gelar yang melekat pada dirinya seperti disebutkan diatas. 

Leo berjasa besar membangun kekuatan Angkatan Udara Republik Indonesia (AURI) di era 1950 dan 1960an. Saat itu AURI adalah Angkatan Udara terkuat di belahan bumi bagian selatan. Jauh lebih kuat dari Australia, apalagi Singapura dan Malaysia.
Baca Juga: Kisah NEKAT & HEROIK Sang Patriot: Menjemput GUGUR dengan GAGAH Diantara KEPINGAN Kapal Perangnya
Sosoknya dikenal disiplin dan punya kemampuan keras. Dia tak malu bekerja di pelabuhan supaya bisa tetap sekolah.

Kesempatan emas untuk Leo muda datang di tahun 1950. Pemerintah Indonesia mengirim 60 penerbang untuk dididik di Trans Ocean Airlines Oakland Airport (Taloa) di Amerika Serikat. Leo membuktikan kelasnya. 

Selama mengikuti pendidikan penerbang di Taloa Leo Wattimena menjadi lulusan terbaik dari 45 kadet yang menjadi penerbang, dan selebihnya menjadi navigator. Menyandang lulusan terbaik merupakan suatu kebanggaan tersendiri dan mengandung arti bagi dirinya untuk selalu berbuat yang terbaik setiap menjalankan tugas. 

Dari hasil yang sangat membanggakan itu membuat dirinya mendapat kesempatan Bersama 18 temen-temennya, untuk melanjutkan pendidikan instruktur selama tujuh bulan di TALOA.

Sesampainya kembali di tanah air selanjutnya ditempatkan di Skadron 3 Lanud Halim Perdanakusuma sebagai penerbang pesawat tempur merangkap instruktur Pesawat P-51 Mustang. Dia jadi legenda karena kepiawaian dan kenekatannya. Teman sesama pilot di dalam dan luar negeri sampai geleng-geleng kalau lihat Leo menerbangkan pesawat tempur.
Baca Juga: HERCULES Sang Mantan PEJUANG NKRI: Kisah dan Fakta SANGAR Preman Yang Pernah Ditakuti Seantero Jakarta.
Penerbang Asing pun "Angkat Topi" dengan Leo Wattimena, bahkan selama menjadi penerbang telah menyandang segudang gelar yang melekat pada dirinya. Mulai dari "orang gila", pemberani, good pilot, penerbang yang cerdik, jenius, orang yang sangat memahami pesawat terbang, sampai julukan "G maniac" yang diberikan oleh penerbang-penerbang pesawat tempur India, karena sangat kagum kepada Leo Wattimena.

Setelah kembali ke tanah air Indonesia  tahun 1951, kemudian diangkat menjadi Letnan Muda Udara I  dan ditempatkan di Komando Operasi di Halim Perdanakusuma, selanjutnya ditempatkan di Skadron 3 hingga pada tahun 1952 naik pangkat menjadi Letnan Udara II.  

Setelah naik pangkat menjadi Letnan Udara I di tahun 1954, kemudian mendapatkan kesempatan kembali pergi ke Inggris untuk mengikuti Pendidikan Penerbang Pesawat Pancargas pada RAF Centre Flying School di Little Resington selama satu tahun.

Indonesia membeli de Havilland DH-115 Vampire yang merupakan pesawat tempur bermesin jet pertama AURI. Lagi-lagi Leo jadi yang paling jago.

Dua tahun kemudian dia kembali dikirim ke Rusia untuk mempelajari jet tempur MiG 15 dan 17. Pesawat terbaik pada masa itu. Lalu dia ke Mesir untuk mempelajari aneka teknik pertempuran.
Baca Juga: Komando..! Komando..! Semua tiarap..! Tiarap!...Detik-Detik Paling MENEGANGKAN Bagi Kopassus. Dunia Terperangah..!
Karir Leo melesat secepat pesawat jet yang dikemudikannya. Mulai dari komandan skadron pesawat pancar gas hingga menjadi Panglima Angkatan Udara Mandala dengan pangkat Komodor Udara tahun 1962. Usianya saat itu baru 35 tahun dan sudah menjadi jenderal bintang satu.

Marah Besar

Komodor Leo Wattimena juga dikenal egaliter dan selalu memperhatikan para prajuritnya lebih dulu. Saat mempersiapkan misi penyerbuan Irian Barat, Leo melihat para prajurit cuma diberi makan tempe. Padahal mereka akan diterjunkan di belantara Irian dan belum tentu pulang dengan selamat. 

Sementara itu, Leo melihat para jenderal yang cuma duduk-duduk di belakang meja enak-enak makan daging ayam.

Leo marah besar. Dibuangnya jatah makanannya sebagai bentuk protes untuk anak buah yang mau bertempur. Itulah Leo, pilot dan komandan jagoan yang sangat peduli pada prajurit rendahan.

Karier "didasikan"

Setelah Presiden Soeharto berkuasa, satu per satu Jenderal yang dianggap sebagai saingan atau membahayakan dikirim sebagai Duta Besar. Istilah Orde Barunya Didubeskan. 

Mayjen Hartono, komandan Kko TNI AL (kini Marinir), dikirim sebagai Duta Besar di Korea Utara. Sementara Marsekal Muda Leo Wattimena menjadi Duta Besar di Italia. Mayjen Sarwo Edhie Wibowo awalnya juga hendak dibuang ke Moscow, namun tidak jadi. Belakangan Sarwo didubeskan di Korea Selatan.
Baca Juga: Sekali Poles...! Gembong PKI KEBAL PELURU Ini TUMBANG di Tangan Sang Letnan.
Semangat Leo langsung hilang. Menjadi Dubes berarti harus berpisah dengan pesawat tempur kesayangannya. Seumur hidup yang dicita-citakan Leo hanya menjadi pilot tempur bukan diplomat berdasi.

Setelah masa dinasnya habis, Leo kembali ke Indonesia. Kondisi kesehatannya terus memburuk. Dia meninggal dunia dalam usia 47 tahun. Jenazah Marsekal Muda yang berani itu dimakamkan di Taman Makan Pahlawan Kalibata. Nama Leo Wattimena diabadikan sebagai nama Lapangan Udara di Morotai.

sumber: merdeka.com | tni-au.mil.id