NKRI Viral News: Militer
Showing posts with label Militer. Show all posts
Showing posts with label Militer. Show all posts

Wednesday, April 5, 2017

Detasemen Harimau Indonesia (Denharin) Pasukan Khusus Paling Misterius Indonesia Yang Ditakuti Dunia

Kekuatan militer Indonesia memang disegani dunia. Namun ada satu nama detasemen TNI yang bikin gemetar tentara manapapun yang mendengar namanya. Indonesia selama ini memang dikenal memiliki banyak sekali pasukan khusus yang memiliki berbagai pran strategis, mulai penjagaan hingga penanggulangan terror. Baik TNI maupun Polri memiliki satuan-satuan yang memang memiliki keahlian spesial. Sebut saja Detasemen 88, Kopassus, Paskhas dan lain sebagainnya.

Selain satuan-satuan tempur tersebut, ternyata Indonesia juga memiliki satu pasukan khusus yang keberadaannya sangat dirahasiakan. Bahkan saking misteriusnya, hingga sekarang mungkin tidak banyak yang tahu siapa saja dan dimana saja anggotanya. Meskipun begitu, pasukan ini sangat dikenal dunia karena ketangguhannya, hingga mendapat julukan ‘Raja dari Rajanya Pasukan Khusus’. Kini pasukan tersebut pun, menjadi legenda bagi militer di dunia.

Pasukan tersebut dikenal dengan nama Detasemen Harimau Indonesia (Denharin) yang merupakan gabungan dari 4 satuan militer yakni AD, AL, AU dan Polri. Banyak yang menyatakan bahwa eksistensi Denharin hanyalah hoax atau tahayul, karena memang data atas keberadaan pasukan hebat ini sangat minim. Meski begitu beberapa fakta yang diyakini menunjukkan keberadaan Denharin masih bisa ditemukan.

Konon pasukan ini dibentuk pada tahun 1986 oleh Jenderal LB Moerdhani, dua tahun sebelum dia menjabat sebagai Panglima TNI. Gabungan dari prajurit-prajurit pilihan se Indonesia, anggota Denharin merupakan hasil seleksi ketat dengan pelatihan super berat. Hasilnya adalah pasukan efektif yang sangat mematikan.

Kabarnya Denharin awalnya dibentuk dengan tugas khusus penanggulangan dan antisipasi berbagai teror yang mengancam Indonesia dari luar. Ini artinya sejak 3 dekade lalu, Indonesia sudah diprediksi menjadi incaran pihak asing.

Misi utama Denharin adalah menjaga NKRI secara keseluruhan dari berbagai bahaya yang mengancam, termasuk juga tindakan makar. Jika mereka mencium adanya gerakan-gerakan negatif yang berpotensi mengancam keutuhan NKRI, maka anggota Denharin agan bergerak secara senyap untuk meringkusnya. Disebut- sebut kemampuan Denharin menyamai satuan paling elite di Amerika Serikat saat itu ‘Phoenix Raven’.

Selain sebagai kontra teror, tugas Denharin berikutnya adalah untuk menjaga Presiden RI. Mereka berdiri di luar ring Paspamres yang memang memiliki tugas utama mengamankan RI 1. Denharin menjadi ‘penjaga rahasia’ bagi Presiden dan keluarganya dimanapun berada.

Dengan tugas yang begitu berat, setiap anggota Denharin juga harus memiliki berbagai skill. Bukan hanya kemampuan tarung dan tempur, anggota Denharin juga harus memiliki kemampuan komunikasi, politik, intelejen dan juga kecerdasan. Dan yang terpenting mereka harus memiliki loyalitas 100 persen kepada NKRI.

Saking rahasianya pasukan ini, bahkan sesama anggota pun tidak pernah ada yang tahu nama asli dan latar belakang kawan mereka disana.  Mereka hany menggunakan nama alias seperti cobra, puma, phyton dan lain sebagainya.

Sebagai pasukan paling khusus TNI jelas memang Denharin mendapatkan pasokan dana yang cukup besar dari pemerintah. Namun kabarnya Presiden saat itu Soeharto juga mengucurkan dana pribadi yang jumlahnya cukup besar untuk bisa menyokong keberadaan Denharin.

Namun kehebatan Denharin disebutkan berakhir secara mendadak pada tahun 1995. Kabarnya Presiden Soeharto sendiri yang membubarkan pasukan super elite tersebut. Banyak yang menyebutkan, saat itu Soeharto sudah mencium adanya ‘pihak-pihak’ yang akan menggunakan Denharin untuk melakukan kudeta dan menggulingkan dirinya. Hal tersebut yang membuatnya membubarkan Denharin secara tiba-tiba.

Usai purna tugas pada 1995, disebutkan jelang reformasi 1999, Denharin kembali diaktifkan untuk berbagai misi tertentu terkait dengan kondisi negara. Hanya siapa yang mengaktifkan dan misi apa yang diemban semua menjadi misteri, semisterius keberadaannya dalam menjaga NKRI.

usai bubar, identitas anggota tetap dirahasiakan. Meski demikian, mantan anggota Den Harin masih diberi kebebasan untuk melakukan tindakan-tindakan rahasia hingga melakukan pembunuhan pada terduga pengganggu negara. Pada tahun 1999, satuan ini dikabarkan dibentuk kembali meski tidak diketahui siapa yang membentuk.

Sumber: suratkabar.id

Thursday, March 23, 2017

Mantap Jiwa...! Kisah Heroik Pasukan Garuda HADAPI Serangan Tank Prajurit Kongo

Kiprah Kontingen Garuda dalam misi perdamaian PBB selalu membanggakan. Pasukan Perdamaian asal Indonesia ini selalu dekat dengan masyarakat, tetapi mampu melakukan misi-misi tempur yang membuat decak kagum negara lain.

      Ada kisah menarik saat Pasukan Garuda II dikirim ke Kongo tahun 1960. Saat itu negara di belahan Afrika tersebut dirundung konflik berdarah. Kongo baru merdeka, namun rupanya Belgia belum rela negara jajahannya itu lepas seluruhnya. Konflik antar suku yang ditunggangi Belgia pun meletus penuh darah. PBB mengirimkan pasukan UNOC (United Nations Operations in Congo). Indonesia menjadi salah satu negara yang ikut menyumbangkan pasukan.

BACA JUGA : Mantap Jiwa...! Cukup 4 Prajurit TNI Untuk Membuat Kocar-Kacir Satu Peleton Pasukan Elit Musuh...


 Di sana mereka harus menghadapi ANC (Army Nation of Colongese). Pasukan Kongo ini mutu prajuritnya rendah, disiplinnya pun jelek. Dulu saat masih dijajah Belgia, para perwira seluruhnya dipegang orang Belgia. Orang Kongo asli paling hanya dapat pangkat sersan. Pasukan ANC ini juga kadang kurang bersahabat dengan Pasukan PBB. Berkali-kali terjadi gesekan antara UNOC dan ANC. Kisah ini ditulis dalam buku Jenderal Tanpa Angkatan, Memoar Eddie M Nalapraya yang diterbitkan Zigzag Creative.

      Namun kehadiran pasukan Indonesia di Kongo rupanya bisa mencairkan hubungan dengan ANC. Pasukan Indonesia dan ANC malah bisa berpatroli bersama dengan rukun di kawasan Buende. Namun langkah tegas juga tetap diambil jika ada masalah. Suatu hari pasukan ANC menggertak Markas Berkas UNOC di Leopodoldville. Mereka mengirimkan tank-tank bermanuver di dekat markas pasukan PBB itu. Kebetulan yang menjadi penjaga markas adalah satu kompi pasukan Indonesia. Ada satu peleton antihuru-hara Marinir di kompi itu.

BACA JUGA : Nah Loh....Diusir Karena Numpang Foto Di Mobil Mewahnya, Cewek Kaya Sombong Ini Melongo Pas Tau Siapa Cowok yang di Usirnya

Tantangan ANC langsung dijawab pasukan Marinir Indonesia. Mereka langsung berlari keluar. Sigap dengan enam buah senjata antitank siap tembak. "Senjata antitank ini memang kita sembunyikan di basement headquarter, Gerakan-gerakan keprajuritan yang ditampilkan oleh Kompi C ini baik sekali, mengesankan," kata Letjen (Purn) Himawan Sutanto yang pada saat itu masih berpangkat Mayor.

Hal ini tak diduga ANC. Melihat aksi pasukan Indonesia siaga dengan senjata antitank, pasukan Kongo takut juga. Tank-tank itu langsung mundur meninggalkan Markas UNOC PBB.
      Kemampuan pasukan Indonesia mendapat pengakuan internasional. Para petinggi UNOC mengakui mereka sebagai pasukan tempur dengan kualitas nomor satu. Namun mampu menciptakan kedekatan dengan rakyat sehingga mau menerima kehadiran pasukan PBB."Sewaktu kami meninggalkan Kongo, pasukan kami dilepas dengan penuh rasa persahabatan. Bahkan ada masyarakat yang sampai menangis segala," kenang Letjen (Purn) Solichin GP yang kala itu memimpin Batalyon Garuda II.


Sumber: merdeka.com

Mantap Jiwa...! Cukup 4 Prajurit TNI Untuk Membuat Kocar-Kacir Satu Peleton Pasukan Elit Musuh...

Baku tembak tak terelakkan. Desingan senapan mesin pun tak berhenti menyentak. Walaupun hanya terdiri dari empat prajurit, mereka tidak gentar.

      Usianya memang senja, tangan pun mulai bergetar saat menggoreskan pena. Namun detik-detik peristiwa tepat di hari pertama tahun 1964 tidak pernah beranjak dari memorinya. Soetoyo ingat jelas, tepat pukul 15.00 Wita, tentara Inggris dan Gurkha menyerang pos tempatnya berjaga di Krayan, perbatasan Kalimantan dengan Malaysia (Foto Cover: 4 Prajurit TNI di Hutan).

Soetoyo paham betul menjadi seorang pejuang mesti memiliki moral yang tinggi. Karena itu, walau empat rekannya sesama pejuang di garis depan berdarah-darah dibantai musuh, tak sedikit pun ada gentar dalam sanubarinya. Malahan semangatnya meletup-letup mempertahankan perbatasan negeri dari geliat pasukan asing. “Jam tiga sore, terdengar suara pistol disertai lemparan granat. Salah seorang dari kami mengecek ke pos jaga dan kembali melapor. Tiga teman kami gugur, seorang lagi luka parah. Rupanya kami diserang,” kisah Soetoyo mengulas kembali baku tembak pertama dalam konfrontasi Indonesia-Malaysia di Kalimantan.

      Sejak semester kedua 1963, dia bersama tujuh rekannya ditugaskan menjaga wilayah perbatasan Kaltim dengan Malaysia. Regunya berada di daerah Krayan, Nunukan, bersebelahan dengan wilayah Ba’kelalan, Serawak yang masuk wilayah Malaysia. Sebuah bukit dan tanah lapang sepanjang lima kilometer menjadi  pemisah antara Indonesia dengan negeri jiran tersebut.

 Batalion tentara Inggris yang dibantu pasukan Gurkha bersiaga di Ba’kelalan. Sebuah bandara menjadi pangkalan mereka, mengancam kedaulatan Indonesia. “Itu serangan militer pertama. Sebelum-sebelumnya hanya ketegangan antara dua negara yang dimulai dengan perobekan foto Presiden Soekarno dan diinjaknya Garuda Pancasila di Kuala Lumpur,” beber Soetoyo.

      Diserang, Soetoyo dan rekan-rekannya membalas. Mereka mengejar tentara musuh hingga melewati perbatasan. Baku tembak tak terelakkan. Desingan senapan mesin jenis M43 pun tak berhenti menyentak.

      Walaupun hanya terdiri dari empat prajurit, Soetoyo dan rekan-rekannya tak gentar. Sekalipun mereka menyadari tengah berhadapan dengan satu peleton prajurit musuh.
“Kami tahu mereka satu peleton karena ada suara letusan pistol. Yang membawa pistol itu hanya komandan peleton,” ujarnya dalam suara parau.Semangat membela tanah air disertai darah muda yang menggebu-gebu membuat Soetoyo bertempur tanpa beban.

      Dia masih bujang kala itu, usianya belum genap 22 tahun. Namun semakin memasuki daerah lawan artinya semakin dekat dengan maut. Pertahanan Inggris pun memberikan perlawanan. Hujan peluru membuat Soetoyo dan kawan-kawan mesti bertempur cerdas. “Kami sadari lawan kami tidak sedikit. Apalagi kami masuk wilayah musuh. Kami sempat berlindung beberapa jam. Setelah memastikan telah mengusir prajurit musuh dari wilayah Indonesia, baru kami kembali ke pos,” tutur Soetoyo yang mengawali karier militernya di Sekolah Calon Tamtama (Secata) Jember ini. Dia menyesalkan leher senapan mesin M43 yang terkena tembakan musuh. Sehingga tidak dapat memutar dan hanya membidik ke satu arah. Padahal dengan kemampuan menembakkan 500 peluru dalam satu rantai, pasti bisa menembak lebih banyak prajurit musuh bila dapat berputar.

Hebatnya, senapa mesin itu digerakkan oleh rekan Soetoyo di pos jaga yang selamat meski harus kehilangan satu kaki.

Baca Juga : Nah Loh....Diusir Karena Numpang Foto Di Mobil Mewahnya, Cewek Kaya Sombong Ini Melongo Pas Tau Siapa Cowok yang di Usirnya

      “Walaupun terluka parah karena serangan musuh dan kehilangan kakinya, namun dia masih bisa bergerak untuk mengoperasikan senapan. Membuat prajurit musuh kocar-kacir masuk ke hutan,” kenangnya.

      Setelah selamat dalam pertempuran tersebut, Soetoyo dan rekan-rekannya terus mendapat intimidasi dari tentara Inggris yang membantu Malaysia. Beberapa kali tentara Inggris melayangkan ultimatum, memaksa Soetoyo dan regunya di perbatasan untuk melambaikan bendera putih. Di antara ultimatum itu mengabarkan bahwa pasukan Indonesia termasuk pasukan khusus RPKAD telah menyerah, menyimpulkan perjuangan Soetoyo dan rekan-rekannya sia-sia.

      “Tapi kami tidak gentar. Karena kami berada di wilayah kami sendiri. Kami tidak mau menyerah,” ungkap pria kelahiran Kediri, 2 November 1942 ini.

      Empat bulan mempertahankan pos perbatasan, Soetoyo ditarik kembali ke Balikpapan. Dia hendak dididik mengoperasikan senjata penangkis serangan udara Batalion Arsu. Sementara tugasnya di Krayan digantikan pasukan batalion 517.

      Namun saat berada di Malinau dalam perjalanan ke Balikpapan, dia mendengar kabar pasukan Inggris menyerang Krayan hingga ke daerah perkampungan. Batalion 517 yang menggantikan regunya pun hancur lebur dalam serangan tersebut.“Mungkin intelijen musuh mengetahui bahwa pasukan yang berjaga merupakan pasukan baru yang belum mengenal medan. Lalu mereka memutuskan menyerang dengan brutal,” sebutnya.

      Lepas pendidikan di Balikpapan, Soetoyo ditugaskan di Batalion 609 di Hulu Mahakam, yang kini masuk wilayah Kutai Kartanegara (Kukar). Setelah konfrontasi dengan Malaysia berakhir tahun 1966, dia dipanggil kembali ke batalionnya di Balikpapan. Setahun kemudian dia dipindahtugaskan menjadi Polisi Militer dan pindah ke Kota Tepian tahun 1970.

      “Saya jadi polisi militer sampai pensiun tahun 1990. Karena saya sempat bertempur dalam konfrontasi dengan Malaysia dan mendapatkan penghargaan Dwikora, saya disarankan mendaftar ke Legiun Veteran,” tandas kakek dari 19 cucu ini. Sumber: tniad.mil.id

Tuesday, February 14, 2017

Begini Pesan LUCU Sang Panglima TNI Untuk Prajurit Yang Istrinya Mencoblos...Hehehe


NKRI HARGA MATI - Panglima TNI Jenderal TNI Gatot Nurmantyo menegaskan komitmennya untuk membantu Polri menjaga keamanan Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Serentak hari ini. Gatot pun memerintahkan prajurit TNI jangan terpengaruh politik praktis (Foto Cover: Panglima TNI Jenderal TNI Gatot Nurmantyo).
Baca Juga: Heboh...! Panglima Perintahkan Prajurit TNI Tidur di Rumah Warga, Ada Apa?
Gatot meminta prajurit tak usah ikut komentar soal politik. Nanti malah ribut sama istri yang punya hak mencoblos. Berikan saja kebebasan istri untuk memilih. TNI nggak usah ikut-ikutan.

Komentar Lucu Panglima

"Kamu bilang nomor sekian, sedangkan istrimu bilang nomor sekian lebih bagus. Nanti kamu bisa ribut sama istrimu," kata Jenderal Gatot saat memberikan pengarahan kepada 600 Prajurit Korps Marinir, Selasa (14/2).

Jenderal TNI Gatot Nurmantyo pun kembali serius. Dia menekankan untuk pelaksanaan Pilkada seluruh Prajurit agar siaga satu. Hal ini mengantisipasi apabila terjadi situasi yang tidak diinginkan. 

"Apabila yang menang tidak sesuai dengan keinginan masyarakat tertentu, maka sangat dimungkinkan terjadi keributan. Hal ini dikarenakan sebagian masyarakat Indonesia belum memiliki kesadaran politik dalam melaksanakan pesta demokrasi," katanya.
Baca Juga: JAGOAN TNI AU Marah BESAR..! : Lihat Jenderal Makan DAGING, Prajurit Cuma Dikasih TEMPE
Dia menegaskan jangan ada prajurit TNI yang melakukan langkah berbeda dengan pimpinannya dan jangan ada prajurit TNI yang melanggar dalam bentuk apapun. 

"Netralitas TNI tetap harus di jaga sebagaimana rambu-rambu yang sudah disampaikan dalam Buku Saku Netralitas TNI," tegas Gatot.

Sumber: merdeka.com

Monday, February 6, 2017

Teriakan Lantang Sang Letnan: Selama Gitarku Masih Terdengar, Tak Boleh Berhenti MENYERANG...!


NKRI Harga Mati - 1600 orang musuh diporak-porandakan oleh tank, menghujani perkubuan musuh dengan senapan mesin. Aksi ini bak aksi dalam Fury yang pernah populer diputar di bioskop-bioskop Indonesia. Akting Brad Pitt yang menjadi komandan tank saat perang dunia II mendapat pujian para penggemar film perang (Foto Cover: Tank Menembak).

Salah satu adegan film menggambarkan empat buah Tank milik AS menggempur barisan pertahanan tentara Jerman yang diperkuat meriam antitank. Tank-tank Sherman itu menjadi ujung tombak penyerangan sementara pasukan infanteri berlindung di belakang tank.
Baca Juga: Kisah Gerilyawan VIETKONG Suguhi Nasi PECEL Untuk TNI Di Tengah Moncong Senjata Siap Tembak
Kisah bak Film Fury itu juga terjadi di Indonesia. Saat itu pasukan TNI tengah menghadapi pemberontakan Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) tahun 1958.

Dalam sebuah pertempuran, dua batalion (sekitar 1.600 orang) pasukan PRRI bertahan di dataran tinggi Lubuk Bagalung, sebelah selatan Kota Padang. Pasukan TNI diperintahkan merebut pertahanan PRRI.

Letnan Kolonel Pranoto Reksosamodra memimpin serangan tersebut. Dia mengerahkan semua kekuatan milik TNI. Dari arah laut, kapal-kapal perang TNI AL membombardir pertahanan musuh. Sementara pesawat Mustang Angkatan Udara memberikan bantuan tembakan udara menghancurkan perkubuan senapan mesin. Serangan juga dilakukan meriam-meriam artileri.

Namun serangan darat bertumpu pada serangan empat buah tank stuart. Skadron Tank itu dipimpin Letnan Satu Broery, seorang perwira asal Maluku.

Di samping tank-tank itu, pasukan baret merah dan Raider bergerak ikut menghancurkan musuh.

Duduk di atas tank sambil bernyanyi

Letkol Pranoto sangat terkesan dengan keberanian Letnan Broery. Tanpa rasa takut sedikit pun Broery duduk di atas kubah tank sambil main ukulele atau gitar kecil. Dia terus melagukan lagu perang Hela Arumbai selama pertempuran.
Baca Juga: Dor...! Dor...!...Bak Django, Prajurit Sutarmono Robohkan 3 Tentara Belanda di Irian. Heroik...!
"Selama ukuleleku masih bisa kalian dengar, maka skadron kita tidak boleh berhenti menyerang," kata Pranoto menirukan perintah Broery yang jantan pada anak buahnya.

Benar saja, Tank Stuart itu terus menderum maju. Menghujani perkubuan musuh dengan senapan mesin. Hanya butuh dua jam untuk merebut Lubuk Begalung dan menghancurkan dua batalion pasukan PRRI.

Pranoto tersenyum bangga pada Letnan Broery. Dia mencatat sama sekali tak ada korban jiwa di pihak TNI dalam serangan itu.

Pengalaman pribadi Pranoto ini kemudian disunting Imelda Bachtiar dalam Buku Catatan Jenderal Pranoto dari RTM Boedi Oetomo sampai Nirbaya yang diterbitkan Kompas tahun 2014.

"Peristiwa ini sangat berkesan dan satu-satunya pertempuran yang tak pernah kulupakan dalam hidupku," kata Pranoto sambil mengenang Letnan Broery dan lagu Hela Arumbai.

Baca Juga:
Sumber: merdeka.com

Sunday, February 5, 2017

Bergaya Seperti RAMBO, Prajurit Sutarmono Taklukkan 3 Tentara Belanda di Irian. Heroik...!


NKRI Harga Mati - Saking gencarnya, Sutarmono mengingat tembakan Belanda ibarat air yang disemprotkan dengan deras dari selang.

17 Mei 1962, Letnan Udara Manuhua memimpin anak buahnya terjun di Klamono, Irian Barat. Mereka adalah salah satu pasukan Gerak Tjepat Angkatan Udara Republik Indonesia yang tergabung dalam Operasi Serigala (Foto Cover: Ilustrasi menembak).

Sama seperti operasi lain, pasukan ini pun kesulitan saat mendarat. Rata-rata pasukan mendarat di puncak pohon setinggi 50 meter. Banyak yang ditemukan dalam kondisi lemah dengan tulang yang patah.

Dari pasukan yang diterjunkan, hanya 15 orang yang bisa berkumpul di belantara Papua. Kondisi kesehatan pasukan tak begitu baik dan kekurangan makanan.
Hal ini dikisahkan dalam buku 52 Tahun Infiltrasi PGT di Irian Barat, Bertahan dan Diburu di Belantara Irian. Buku Terbitan Majalah Angkasa ini ditulis Beny Adrian dan diluncurkan di Jakarta, Jumat (25/4) lalu di Jakarta.

Letnan Manuhua membagi pasukannya jadi dua tim. Yang pertama untuk misi sabotase, sisanya stand by menunggu perintah.

Tim sabotase dipimpin Manuhua dibantu Sutarmono. Pengawalnya Angkow, Muis, Hamid Umar, Kusaeri, Suyatno dan Silitibun.

Mereka bergerak dalam hutan. Setelah berhari-hari, mereka menemukan kampung kecil berisi beberapa rumah dan gereja.

Pasukan kecil itu beristirahat semalam di sebuah gubuk di pinggir desa. Keesokan harinya seorang penduduk meminta mereka dengan ramah untuk pindah ke tempat yang katanya lebih aman. Manuhua dan pasukannya pun diberi makanan berupa pisang dan sagu.

Jebakan 

Tanpa curiga mereka pindah ke tempat baru. Baru beristirahat sebentar, seorang anggota curiga. Lewat celah dinding dia melihat beberapa serdadu Belanda mendekat. Benar saja. Ini jebakan.

Pasukan Belanda memberondong gubuk itu dengan ratusan peluru. Rupanya gubuk itu sengaja disiapkan sebagai killing ground. Saking gencarnya, Sutarmono mengingat tembakan Belanda ibarat air yang disemprotkan dengan deras dari selang.

Prajurit Udara I Sugiyanto tewas dalam serangan ini. Kopral Muis tertembak di kaki.

Aksi Heroik Bak Rambo

Sutarmono menyelamatkan diri keluar gubuk. Dia melihat dua tentara Belanda memberondong gubuk dengan bren. Prajurit Udara I itu meraih senapan G3 miliknya. Dibidiknya dua Belanda itu.

Dor! Dor! Keduanya roboh ditembus peluru 7,62 mm dari senapan G3. 

Sutarmono melihat seorang Belanda lain di dekatnya. Serdadu itu pun berhasil dihabisi. Sutarmono kemudian mengambil bren milik Belanda.

Namun kegembiraannya tak lama. Dia melihat komandannya Letnan Manuhua yang sudah terluka terus diberondong peluru oleh Belanda hingga tewas.

Walau berat Sutarmono terpaksa meninggalkan tempat itu. Dia menutupi tubuhnya dengan tanah dan daun-daunan. Demikian ahlinya Sutarmono hingga tak ketahuan Belanda yang lewat di dekatnya.

Sutarmono bisa bergabung dengan tim kedua yang stand by. Dia kembali masuk hutan. Namun beberapa hari kemudian pertempuran pecah. Dua orang rekan Sutarmono tewas, sementara dirinya dan tiga rekan ditangkap Belanda.

Dalam tahanan di Sorong, Sutarmono mengaku bernama Sutardjo. Namun kemudian dia ketahuan juga. Seperti tahanan lain, Sutarmono disiksa.
Dia mengingat yang paling kejam adalah polisi Belanda dari Jombang, Jawa Timur yang beristrikan wanita Belanda. Dia mengingat tak semua jahat, ada juga tentara Belanda yang bersimpati pada para gerilyawan.

Sutarmono baru dibebaskan dan dikembalikan ke tanah air tahun berikutnya saat tercapai gencatan senjata Indonesia-Belanda di bawah PBB.

Sumber: merdeka.com

Saturday, February 4, 2017

Alkisah Gerilyawan VIETKONG Hidangkan PECEL Untuk TNI Di Tengah Moncong Senjata Siap Tembak


NKRI Harga Mati - Situasinya cukup menegangkan. Kedua pihak membawa senapan siap tembak. AVRN dengan M-15 dari AS sementara Vietkong menyandang AK-47 dengan bayonet terhunus. Sementara itu perwira ICCS tak diperkenankan membawa senjata.

Kiprah Pasukan Garuda sebagai pasukan perdamaian di bawah bendera TNI sudah diakui dunia. Mereka dikenal bisa mengambil hati pihak yang berkonflik. Pengalaman ini pun dirasakan oleh Pasukan Garuda V yang bertugas pada tahun 1973 hingga 1974 di Vietnam (Foto Cover: Tentara Vietnam).

Salah satu perwira TNI yang bertugas di sana Letnan Dua Abu Husein. Alumnus Akabri 1970 ini bertugas dalam tim International Commision of Control and Supervision (ICCS). Komisi internasional yang bertugas mengawasi gencatan senjata antara Tentara Vietnam Selatan (AVRN) dan Tentara Vietnam Utara, termasuk di dalamnya gerilyawan Vietkong.
Baca Juga: Komando..! Komando..! Semua tiarap..! Tiarap!...Detik-Detik Paling MENEGANGKAN Bagi Kopassus. Dunia Terperangah..!
ICCS beranggotakan dua negara komunis, Hongaria dan Polandia. Serta dua negara nonkomunis Kanada dan Indonesia.

Dalam rangka menjalankan tugasnya Letda Abu Husein kerap mengawasi pertukaran tawanan antara ARVN dan Vietkong. Situasinya cukup menegangkan. Kedua pihak membawa senapan siap tembak. AVRN dengan M-15 dari AS sementara Vietkong menyandang AK-47 dengan bayonet terhunus. Sementara itu perwira ICCS tak diperkenankan membawa senjata.

Lucunya, para perwira Indonesia sengaja berdiskusi dengan Bahasa Sunda atau Bahasa Jawa. Hal ini agar tidak diketahui oleh perwira dari Hongaria dan Polandia yang sering tidak jelas kemauannya.

Tentara Vietkong sendiri biasanya lebih ramah terhadap perwira dari Indonesia. Mungkin karena sama-sama dari Asia dan tidak mewakili kepentingan AS. 

Untuk menghormati para perwira dari Indonesia, para gerilyawan Vietcong sampai memasak masakan khusus. Nasi pecel!

"Saya sempat terpesona ketika makan siang diberi nasi pecel. Entah bagaimana mereka tahu membuat nasi pecel itu," kata Letda Abu.
Baca Juga: JAGOAN TNI AU Marah BESAR..! : Lihat Jenderal Makan DAGING, Prajurit Cuma Dikasih TEMPE
Hal ini dikisahkan Abu dalam buku Mengawali Integrasi Mengusung Reformasi, Pengabdian Alumni Akabri Pertama 1970 yang diterbitkan Kata Hasta Pustaka tahun 2012.

Pengalaman Letda Abu lain yang menarik di Vietnam adalah permintaan tentara Vietnam Selatan (AVRN) untuk mengusut jembatan yang hancur karena ledakan. Padahal masing-masing sisi jembatan itu dijaga satu peleton AVRN.

Rupanya vietkong menggunakan pasukan khusus untuk menyelam di sungai. Mereka membawa bambu yang ujungnya dipasang detonator. Begitu sampai di kaki jembatan, detonator diledakkan dengan risiko si pembawa ikut tewas.

Baca Juga:


Sumber: merdeka.com

Wednesday, January 25, 2017

Dentasemen Harimau: Rajanya Pasukan Khusus Indonesia Paling MISTERIUS

Patriot NKRI - Indonesia memiliki banyak sekali pasukan khusus yang tugasnya untuk mengamankan Indonesia dari teror atau melakukan tugas penting lain yang rahasia. Hampir di setiap satuan militer baik TNI maupun POLRI memiliki satuan yang sangat ahli dalam berperang ini. Sebut saja Dentasemen 88, Koppasus, Paskhas, dan lain sebagainya.
Selain beberapa pasukan khusus di atas, sebenarnya Indonesia memiliki pasukan khusus yang sangat rahasia. Bahkan saking rahasianya, anggota dari pasukan ini pun tidak jelas siapa saja. Meski demikian, pasukan ini dikenal sebagai rajanya pasukan khusus hingga layak disebut sebagai legenda. Berikut uraian selengkapnya tentang Dentasemen Harimau atau sering disebut dengan Den Harin.

Fakta dan Dugaan Keberadaan dari Dentasemen Harimau

Selama ini desas-desus tentang adanya pasukan khusus paling elite di Indonesia dikatakan sebagai hoax belaka. Tidak ada bukti yang menunjukkan adanya eksistensi dari Dentasemen Harimau yang dikenal sangat hebat. Meski demikian, tak sedikit pula yang meyakini bahwa pasukan ini benar-benar ada dan konon dibentuk pada tahun 1986.

Orang yang membentuk pasukan khusus ini adalah Jenderal L.B. Moerdhani dua tahun sebelum menjabat Panglima TNI. Pasukan yang dibentuk ini menampung prajurit hebat dari lingkungan TNI AD, AL, AU, dan POLRI. Semuanya diseleksi ketat agar menghasilkan pasukan yang benar-benar mematikan.

Tugas Pokok Dentasemen Harimau

Dentasemen Harimau memiliki tugas khusus untuk menanggulangi teror-teror yang masuk ke Indonesia. Pasukan ini juga mengawal Presiden meski tidak terafiliasi dengan Paspampres yang sudah sangat terkenal itu. Den Harin dipersiapkan untuk misi lapangan rahasia yang menuntut kemampuan bertarung tingkat tinggi yang tak dimiliki oleh semua pasukan TNI dan POLRI.
Baca Juga: [Video] Jadi JAWARA Tak Terkalahkan, Prajurit Kopassus Ini Malah Bingung...!
Misi utama dari Den Harin adalah melindungi NKRI secara menyeluruh tanpa terkecuali. Jika ada isu serangan, tindakan makar, dan hal-hal negatif lainnya, Den Harin akan datang secara diam-diam dan meringkusnya. Kemampuan perang dari Den Harin mungkin setingkat dengan pasukan pembunuh milik Amerika bernama Phoenix Raven.

Kemampuan yang Harus Dimiliki Anggota Den Harin

Ada dua kemampuan yang harus dimiliki oleh anggota Den Harin. Pertama adalah kemampuan kombatan atau bertarung dan yang kedua adalah nonkombatan. Seorang anggota Den Harin harus mampu bertarung dengan sangat gesit, cekatan dan juga cerdas. Terpenting lagi mereka harus memiliki sikap pemberani dan memiliki loyalitas tinggi pada NKRI.

Kemampuan nonkombatan yang harus dimiliki oleh anggota Den Harin adalah memahami permasalahan sosial, budaya, ekonomi, energi, sains, teknologi, dan bidang lain yang berhubungan dengan negara. Intinya, pasukan ini haruslah seorang yang genius dan memiliki kemampuan hebat dalam bertarung.

Seperti yang telah disebutkan sebelumnya bahwa pasukan ini sangatlah rahasia. Tak ada yang tahu siapa anggotanya secara resmi. Namun, dari sebuah data yang beredar, anggota dari Den Harin memiliki code name yang berbeda-beda. Misal anggota dari Angkatan Darat ada yang bernama Puma dan Tiger. Sementara itu anggota dari POLRI bernama Phyton dan Viper.

Pasukan khusus ini mendapatkan sokongan dana dari Pemerintah Indonesia melalui TNI, Anggaran pribadi Presiden Soeharto yang saat itu masih menjabat, dan beberapa Jenderal besar serta konglomerat Tionghoa yang dikenal sangat nasionalis. Semua dana akan dikumpulkan untuk latihan, persenjataan, dan misi-misi penting.
Pembubaran Den Harin yang Tiba-Tiba
Den Harin akhirnya secara resmi dibubarkan pada tahun 1995. Selama 9 tahun mengabdi pada Indonesia, pasukan elite Indonesia dianggap sudah purnatugas. Pembubaran Den Harin secara tiba-tiba disinyalir karena ada misi untuk penggulingan Presiden Soeharto. Mengetahui hal buruk yang akan mengenainya, presiden memerintahkan pasukan ini dibubarkan.

Presiden Soeharto
Usai bubar, identitas anggota tetap dirahasiakan. Meski demikian, mantan anggota Den Harin masih diberi kebebasan untuk melakukan tindakan-tindakan rahasia hingga melakukan pembunuhan pada terduga pengganggu negara. Pada tahun 1999, satuan ini dikabarkan dibentuk kembali meski tidak diketahui siapa yang melakukannya. Pun maksud dan tujuannya menjadi rahasia.
Inilah misteri Dentasemen Harimau atau Den Harin yang merupakan pasukan khusus paling rahasia yang dimiliki oleh Indonesia. Benar atau tidaknya pasukan ini tidak ada yang tahu. Tapi yang jelas, pasukan ini sangat hebat dan akan membela NKRI yang merupakan harga mati.

Sumber: boobastis.com

Wow...! Hanya Dengan IKAN ASIN, TNI Kalahkan Pemberontak Yang Sulit Ditumpas

NKRI123 - Pemberontakan di Jawa Barat ini merupakan salah satu perlawanan bersenjata yang paling lama ditumpas. Pihak TNI sampai harus berkali-kali mengubah pola operasi.

7 Agustus 1949, Sekarmadji Maridjan Kartosoewirdjo memproklamirkan berdirinya Negara Islam Indonesia di Tasikmalaya, Jawa Barat. Kekuatan mereka cukup besar. Propaganda pembentukan negara yang berasaskan Islam membuat rakyat Jawa Barat tertarik.
Baca Juga: 3 MENIT paling MENEGANGKAN...! Inilah Aksi HEROIK Kopassus Yang Membuat Dunia Terperangah..!
Awalnya TNI hanya menggelar operasi militer untuk memukul kekuatan DI/TII. Namun cara itu tak efektif, pemberontak masih saja memiliki kekuatan untuk bergerilya.

Maka kemudian selain operasi tempur, TNI menggelar operasi teritorial. Secara persuasif, anggota gerombolan diminta turun gunung dan kembali ke masyarakat. TNI juga aktif melakukan pembangunan dan bakti sosial di desa-desa yang semula mendukung DI/TII. 

Masyarakat mulai berbalik bersimpati pada TNI dan mulai berhenti membantu DI/TII. Ribuan orang berhasil dipanggil untuk kembali ke masyarakat.

Namun tetap ada yang meneruskan perlawanan. Maka TNI bersama rakyat bersama-sama menggelar operasi pagar betis.

Pemberontak DI TII Menyerah
"Kita membangun puluhan pos dengan jarak 25-50 meter mengelilingi gunung. Anggota DI/TII tak bisa meloloskan diri. Mereka terkurung di lereng-lereng. Lama-lama kehabisan makanan," kisah Ajat (82), pensiunan prajurit Kujang Siliwangi yang mengikuti operasi Pagar Betis di sekitar wilayah Tasikmalaya dan Garut.
Baca Juga: Merebus Sepatu Lars Untuk Dimakan Hingga Tergantung di Atas Pohon.
Pria berpangkat Pembantu Letnan Satu itu menceritakan saat itu sebenarnya pasukan DI/TII pun sudah lelah bertempur. Apalagi sebagian keluarga mereka sudah kembali ke pangkuan Republik Indonesia.

TNI tahu pihak DI/TII sudah kelaparan di gunung. Maka setiap malam setiap pos biasanya memasak nasi liwet. Beras yang dicampur santan, bumbu repah dan ikan asin itu wanginya sangat harum saat dimasak. Angin menerbangkan wangi nasi liwet dan ikan asin hingga ke puncak gunung tempat para pemberontak bersembunyi.
Baca Juga: Inilah KOOPSSUSGAB: Pasukan Elite SUPER KILAT, Berkualifikasi Dahsyaat...!
Masyarakat yang mengikuti operasi itu juga seringkali menyanyikan tembang-tembang berbahasa Sunda sambil menunggu nasi dan lauk ikan asin matang. Umumnya tentang rasa persahabatan, kampung dan keluarga. Tujuannya untuk mengetuk hati pemberontak agar mau turun gunung dan kembali ke masyarakat.

"Banyak yang akhirnya menyerah dan turun ke pos-pos di kaki gunung," kata Ajat.

Sumber: merdeka.com

[Video] Jadi Jawara Yang Tidak Terkalahkan, Prajurit Kopassus Ini Malah Bingung...!

NKRI123 - Untuk urusan menembak, Beliaulah jagonya. Anggota Grup 3 Kopassus ini tak terkalahkan hingga mendapat ratusan medali dari berbagai perlombaan (Foto Cover: Penembak).
Dialah Peltu Sholeh. Saking banyaknya, Peltu Sholeh sampai bingung menghitung medalinya. Digantung di dinding rumah sampai tak cukup!

Simak videonya berikut ini: 



Sumber: merdeka.com

Tuesday, January 24, 2017

Kisah Jenderal TNI: Sang Raja Intel Indonesia, Dibentak Marinir


Patriot NKRI - Meski perannya begitu besar, namun raja intel Indonesia ini sangat misterius. Seakan menjadi sebuah petunjuk, jurnalis di Indonesia tak pernah memasang fotonya. Alhasil, publik tak banyak tahu wajahnya saat dia memegang kendali intelijen, bahkan militer militer sekalipun. Jangankan warga sipil, tentara saja banyak yang tidak tahu sosok Benny Moerdani.

Di era pemerintahan Presiden Soeharto, sosok Benny Moerdani menjadi orang berpengaruh kedua di bawah sang presiden. Dia merupakan salah satu tokoh yang mengorganisir Operasi Seroja ke Timor Timur, dia pula yang mengatur operasi pembebasan sandera Woyla DC-9 di Thailand.
Baca Juga: NGERII..! Inilah Pasukan HANTU KALIMANTAN Yang Bikin Belanda Keok dan Lari Tunggang Langgang..
Tak heran, seorang personel Marinir pernah membentak Benny. Padahal marinir itu berpangkat bintara sementara Benny sudah berpangkat Mayor Jenderal.

Kisah ini bermula ketika Benny memiliki urusan ke markas Komando Operasi Pemulihan Keamanan dan Ketertiban (Kopkamtib). Dia mengendarai mobilnya menuju kantor yang berada di Jalan Merdeka Barat tersebut tanpa mengenakan seragam militer.

Sesampainya di lokasi, Benny langsung memarkirkan kendaraannya di lokasi terdekat dengan pintu masuk. Rupanya hal itu memancing seorang penjaga, yang juga personel Marinir, mendekatinya.

Tanpa pikir panjang, Marinir tersebut langsung membentak dan memintanya memindahkan kendaraannya. Sebab, tempat parkir tersebut hanya diperuntukkan bagi pimpinan militer. Benny yang memakai pakaian sipil hanya diam saja.

Benny lantas memindahkan kendaraannya ke lokasi yang ditunjukkan Marinir tersebut. Meski begitu, Benny tidak marah.
Baca Juga: Mengharukan..! Perjuangan Sang Jenderal KURUS Kering, Bermantel LUSUH, dan Berparu-Paru SEBELAH
"Mungkin memang salah saya sendiri, kok waktu itu pakai pakaian preman," aku Benny.

Kejadian lainnya berlangsung saat dia kembali ke dunia militer usai menjalani tugas diplomatiknya. Meski sudah berbintang dua, namun banyak perwira TNI yang tak bertanya-tanya terhadap dirinya. Kisah ini ditulis dalam buku 'Benny: Tragedi Seorang Loyalis' yang ditulis Julius Pour terbitan Kata Hasta Pustaka tahun 2007.

"Ketika saya sudah berbintang dua, seorang kolonel masih sempat bertanya kepada penjaga Markas Hankam, lho siapa jenderal itu? Perwira ABRI saja enggak kenal saya, apalagi orang luar."

Sebagai orang nomor satu di dunia intelijen, kerahasiaan memang nomor satu. Setidaknya, itulah yang dijalani Benny selama berkecipung di dalamnya.


Baca Juga:

Sumber: merdeka.com

Monday, January 23, 2017

Komando..! Komando..! Semua tiarap..! Tiarap!...Detik-Detik Paling MENEGANGKAN Bagi Kopassus. Dunia Terperangah..!

NKRI123 - Keberhasilan ini membuat dunia terperangah. Mereka tak menyangka pasukan Indonesia bisa melakukan operasi khusus yang selama ini baru dilakukan militer negara maju.

Operasi Woyla mengangkat nama Kopassus TNI AD ke jajaran pasukan elite dunia. Saat itu sebenarnya TNI belum punya pasukan khusus yang benar-benar siap untuk misi antiteror. Namun terbukti mereka mampu menjalankan tugas dengan baik dengan pembebasan sandera DC-9 .

Tak ada satu pun sandera yang terluka dalam misi ini. Lima orang pembajak berhasil ditembak mati. Keseluruhan operasi tanggal 31 Maret 1981 ini hanya berlangsung tiga menit.
Baca Juga: Wow...! Begini Aksi HEBAT Raider TNI AD. Ranger AS Langsung Minta BERGURU..!
Keberhasilan ini membuat dunia terperangah. Mereka tak menyangka pasukan Indonesia bisa melakukan operasi khusus yang selama ini baru dilakukan militer negara maju.

Sebenarnya tak cuma pihak asing yang ragu. Kepala Operasi Pembebasan Sandera Letjen Benny Moerdani pun memperkirakan keberhasilan timnya 50:50.

Satu hal yang terungkap, Benny ternyata sudah menyiapkan 17 peti mati dalam operasi itu. Hal itu sesuai dengan perkiraan Benny bakal jatuh banyak korban dalam misi pembebasan sandera.

"Ternyata perkiraan ini meleset, karena seusai operasi penanggulangan teror, hanya diperlukan lima peti jenazah bagi pembajak," kata Letkol Sintong Panjaitan yang memimpin operasi tersebut.

Sintong Panjaitan menceritakan peristiwa tersebut dalam buku biografinya, Perjalanan Seorang Prajurit Para Komando. Buku ini ditulis Hendro Subroto dan diterbitkan Penerbit Buku Kompas tahun 2009.

Aksi Pembajakan

"Komando! Komando! Semua tiarap! Tiarap!"

Teriakan itu mengejutkan semua orang di dalam kabin pesawat DC-9. Jam menunjukkan pukul 02.45 waktu Bangkok. Secara cepat tim penyergap antiteror menerobos masuk pesawat.

Tembakan senapan serbu semiotomatis terdengar menyalak beberapa kali. Drama penyanderaan pesawat Garuda DC-9 Woyla di Bandara Don Muang, Thailand itu berakhir dalam waktu tiga menit.

Penyanderaan pesawat Garuda GA-206 'Woyla' rute Jakarta-Medan itu dimulai Sabtu 28 Maret 1981. Setelah transit di Palembang, tiba-tiba seorang pria berpistol memasuki ruangan kokpit.
Baca Juga: Sekali Poles...! Gembong PKI KEBAL PELURU Ini TUMBANG di Tangan Sang Letnan.
Kapten Pilot Herman Rante dipaksa mengalihkan penerbangan ke Colombo, Srilanka. Namun Herman menjelaskan bahan bakar pesawat tak cukup. Akhirnya pesawat mendarat di Penang, lalu kemudian menuju Bandara Don Muang, Bangkok.


Pihak intelijen Indonesia menyebut kelima orang pembajak berasal dari kelompok Komando Jihad. Mereka adalah Zulfikar T Djohan Mirza, Sofyan Effendy, Wendy Mohammad Zein, Mahrizal dan Mulyono.

Pembajak menuntut pemerintah Indonesia membebaskan 80 anggota Komando Jihad yang dipenjara karena beberapa kasus. Antara lain penyerangan Mapolsek Pasir Kaliki, Teror Warman di Raja Paloh dan aksi lainnya sepanjang 1978-1980. Selain itu, mereka juga meminta uang USD 1,5 juta.

Presiden Soeharto menjawab tuntutan itu dengan aksi militer. Asintel Panglima ABRI Mayjen Benny Moerdani menjelaskan keberhasilan operasi militer adalah 50:50.

Masalahnya saat itu seluruh kekuatan ABRI sedang menggelar latihan gabungan di Ambon. Begitu juga dengan para prajurit Kopasandha. Para pasukan yang sudah melakukan latihan antiteror malah sedang mengikuti Latgab di Ambon.

Perwira paling senior di Markas Baret Merah itu tinggal Letkol Sintong Panjaitan. Perwira menengah tersebut tak ikut ke Ambon karena kakinya patah saat mengikuti latihan terjun payung. Untuk berjalan saja, Sintong harus dibantu tongkat. 

Kini dia yang harus memimpin operasi pembebasan sandera itu. Uniknya, Sintong akhirnya memaksakan diri berjalan tanpa tongkat begitu Komandan Kopasandha Brigjen Yogie S Memet memerintahkannya memimpin operasi.

"Masak komandan memimpin operasi militer pakai tongkat," kata Sintong.

Dalam waktu singkat Sintong memilih pasukan yang tersedia di Mako Kopasandha. Seluruh prajurit baret merah yang kelak bernama Kopassus ini bersemangat mengikuti operasi tersebut.
Baca Juga: Si GANTENG, Direktur AKADEMI MILITER Tangerang, PERWIRA Berusia 17 Tahun. GUGUR Diberondong Peluru
Sintong sadar. Waktu melatih pasukan ini cuma beberapa hari. Selama tim berlatih di Hanggar Garuda, pemerintah Indonesia terus melobi Kerajaan Thailand agar diperbolehkan menggelar operasi militer.

Tanggal 30 Maret 1981 pasukan bertolak ke Bangkok. Sambil menunggu jam 'J' mereka terus berlatih.

Akhirnya lampu hijau diberikan pemerintah Thailand. Pasukan Komando Indonesia diberi izin melakukan operasi militer di Bandara Don Muang. Disepakati waktu penyerangan adalah jam 03.00.

Namun diputuskan waktu penyerangan dimajukan. Dengan sigap para prajurit itu melakukan tugasnya. Lima orang pembajak ditembak mati. Tak ada satu pun sandera yang terluka.

Pembebasan yang dramatis

Lima pembajak yang ditembak adalah Abdullah Mulyono, Wendy Mohammad Zein, Zulfikar, Mahrizal dan Abu Sofyan.

Dalam operasi tersebut, Abdullah Mulyono sempat berusaha merebut senjata tim penyerbu. Namun dia ditendang keluar dan tergelicir lewat peluncur. Mulyono segera ditembak sub tim yang berjaga di bawah hidung pesawat.

Sementara itu Wendy Mohammad Zein ditembak di dekat pintu darurat. Pembajak lainnya, Zulfikar, berusaha melarikan diri lewat sayap pesawat. Namun dia dipergoki dan tewas dihantam peluru M-16 tim yang berjaga di luar pesawat.

Perlawanan paling seru diberikan Mahrizal, dia sempat menembak jatuh anggota tim antiteror Capa Ahmad Kirang. Tembakan itu melukai perut bawah Kirang. Mahrizal juga menembak seorang lainnya, namun mengenai rompi anti peluru. Pasukan Komando segera membalas dengan tembakan senapan MP5 hingga Mahrizal tewas di dekat Pramugari.
Baca Juga: Kisah HEROIK Mayor Dimara: Bikin Presiden Soekarno KAGUM, Hingga Bikin Patung Raksasa
Satu yang terakhir, Abu Sofyan, berniat meloloskan diri. Dia ikut turun bersama para penumpang yang dievakuasi keluar pesawat. Namun seorang penumpang mengenali Abu Sofyan dan berteriak.

Abu Sofyan berlari menjauhi pesawat. Namun dengan sigap pasukan antiteror segera menembaknya. Dia tewas seketika.

Keberhasilan misi itu diwarnai duka. Capa Ahmad Kirang dan Kapten pilot Herman Rante yang tertembak tewas beberapa hari kemudian di rumah sakit. Keduanya dimakamkan di Taman Pahlawan Nasional. Kopassus mendirikan monumen Ahmad Kirang di Markas Sat-81 Gultor Cijantung.

Sumber: merdeka.com