NKRI Viral News: Sejarah
Showing posts with label Sejarah. Show all posts
Showing posts with label Sejarah. Show all posts

Friday, February 10, 2017

NGERI...! Inilah Yang Akan Terjadi Jika Tahun 1965 PKI Menang di Indonesia.

NKRI123 - Tragedi penculikan enam jenderal dan satu perwira TNI AD tanggal 1 Oktober 1965 berujung pahit bagi Partai Komunis Indonesia (PKI). Tak butuh waktu lama hingga akhirnya PKI dibubarkan. Di Jawa Tengah, Jawa Timur dan Bali, ratusan ribu anggota dan simpatisan PKI tewas dibunuh (Foto Cover:  Diorama aksi kekejian PKI).
PKI kalah dalam kudeta gagal tersebut. Angkatan Darat dan Ormas antikomunis langsung menyerang balik dan menghancurkan PKI hingga nyaris tak tersisa.
Diorama Penyiksaan Mayjen TNI S. Parman oleh PKI di Museum Pengkhianatan PKI (Komunis) di Lubang Buaya, Jakarta Timur
Banyak pertanyaan, seandainya saat itu gerakan G30S berhasil dan PKI yang menang kira-kira apa yang terjadi?

Apa yang terjadi bila PKI menang?

Sejarawan Anhar Gonggong menilai PKI akan melakukan pembantaian. Menurut Anhar jika melihat sejarah, perebutan kekuasaan yang dilakukan komunis pasti memakan pertumpahan darah yang sangat besar.

"Lihat di Rusia dan Uni Soviet, mungkin satu setengah juta orang terbunuh. Di Kamboja pun Khmer Merah membunuh jutaan penduduk yang tak sama dengan mereka," kata Anhar Gonggong dalam diskusi Jelajah Sejarah di Lubang Buaya, Minggu (18/10/2015).

Walau PKI sempat menegaskan akan berjuang lewat parlemen dan tidak akan melakukan kekerasan, Anhar tak yakin dengan semua itu. Menurutnya pembantaian pasti akan terjadi. Kebetulan yang menang tahun 1965 adalah Soeharto, sehingga PKI yang dikalahkan. 

Pembersihan anggota PKI di Jawa Tengah dan Jawa Timur dilakukan oleh TNI dibantu ormas dan warga antikomunis. Resimen Para Komando Angkatan Darat yang dipimpin Kolonel Sarwo Edhie Wibowo melatih para pemuda yang mau melawan komunis. 
Sumber: merdeka.com

Thursday, February 2, 2017

Kisah Golok, Ilmu Rawarontek dan Kesaktian Si PITUNG: Sang JAWARA Melawan Penjajah

NKRI123 - Nama Pitung hingga kini masih menjadi legenda di kalangan masyarakat Betawi. Cerita berkembang hingga kini, Pitung adalah sosok jawara suka membela kebenaran dan membantu rakyat kecil pada zaman pemerintahan Hindia Belanda. Dia dilahirkan di Kampung Rawa Belong, Jakarta Barat sekitar tahun 1866. Nama aslinya, Salihoen. 
Baca juga: [Video] Jadi JAWARA Tak Terkalahkan, Prajurit Kopassus Ini Malah Bingung...!
Pitung memang diketahui lahir di Kampung Rawa Belong. Ayahnya bernama Piung, merupakan asli Banten. Sedangkan ibunya, Pinah, merupakan asli Cirebon. Mereka bertemu dan menikah di Rawa Belong. Dari cerita soal kelahiran Pitung, hanya dialah seorang paling menonjol di kalangan keluarganya. Cerita soal keberadaan saudara kandungnya sangat minim. Wajar jika kemudian banyak yang mengatakan, Pitung merupakan anak tunggal.

Kelahiran Pitung menurut Nunung memang memiliki cerita tersendiri yang kemudian berkembang hingga kini. Kisahnya menjadi jawara bermula ketika dia berguru pada Haji Naipin di Tanah Abang. Pitung saat itu disekolahkan oleh kedua orang tuanya di Pesantren milik Haji Naipin. Di sana, Pitung belajar agama dan beladiri. Bela dirinya pun masih terkenal hingga kini yaitu 'Seni Bela Diri Maen Pukul'.

Pitung memang dibesarkan dan diajarkan oleh kedua orangtuanya dengan ajaran syariat Islam. Selama belajar dengan Haji Naipin, Pitung juga menjadi murid kesayangan karena pintar. 
Baca Juga: Komando..! Komando..! Semua tiarap..! Tiarap!...Detik-Detik Paling MENEGANGKAN Bagi Kopassus. Dunia Terperangah..!
Singkat cerita, setelah dia selesai berguru di Pesantren Haji Naipin, Pitung kembali ke Rawa Belong. Dia kemudian hidup dan membantu kedua orang tuanya. Saban hari, Pitung mengembalakan kambing. Hingga akhirnya suatu ketika, Pitung disuruh ayahnya menjual kambing ke Pasar Tanah Abang. Sebelum berangkat, ayahnya berpesan agar hati-hati, sebab daerah Tanah Abang rawan bandit sama perampokan. 

Kemudian pergilah Pitung ke Pasar Kambing Tanah Abang. Dia pergi sambil membawa dua ekor kambing gemuk untuk di jual. Tak perlu waktu lama bagi Pitung menjual kambing itu. Pembeli pun langsung tertarik karena kambing peliharaannya sehat. Uang hasil jual kambing buru-buru ia simpan dalam bajunya. Kemudian dia bergegas pulang ke Rawa Belong.

Karena waktu panggilan salat tiba, Pitung mampir di sebuah musala. Dia kemudian salat. Namun Pitung tak sadar jika dia dikuntit kawanan pencuri. Uang ditaruh dalam celananya raib. Ternyata, ada dua orang pencuri mengikuti dia dan mengambil uang dari bajunya pitung yang digantung itu.
Baca Juga: Kisah JAGAL Belanda Pembantai TNI dan 40 Ribu Rakyat Indonesia. KEJAM dan BIADAB...!
Sampai di rumah, Pitung habis di maki-maki ayahnya. Uang hasil jualan kambingnya raib. Pitung lalu disuruh kembali ke Pasar Tanah Abang. Dia tidak diizinkan pulang sebelum membawa uang hasil jualan kambing. Karena sudah terlanjur kesal, Pitung kemudian bergegas ke Pasar Tanah Abang. Di sana, dia menemui preman-preman pasar mengambil uangnya. Pitung berkelahi. Dia memenangkan perkelahian dan ditawarkan bergabung dengan kelompok bandit itu. Namun sebagai anak betawi dibesarkan dengan ilmu agama, Pitung menolak. Dia justru menasihati para begundal pasar itu agar lebih banyak menolong orang.

Menjadi "Robin Hood"

Singkat cerita, ketika dia kembali ke kampungnya untuk mengantarkan duit hasil jualan kambing, Pitung justru melihat warga kampung diperas oleh Kompeni Belanda. Dari sanalah kemudian muncul idenya untuk bergabung dengan para perampok di Pasar Tanah Abang. Sejak saat itu Pitung membuat kelompok untuk merampok tuan tanah kaya. Dia kemudian membagikan hasil rampokannya kepada penduduk yang sengsara. Sejak saat itu juga nama Pitung tersohor. 

Dalam catatan surat kabar Hindia Olanda kisah Pitung terekam pada tahun 1892-1893. Pitung dalam koran itu diceritakan sebagai sosok seorang komplotan perampok dan menjadi buronan kelas kakap Polisi Kolonial. Menurut versi lain, seluruh harta hasil rampokan Si Pitung diserahkan untuk kepentingan perjuangan. Dan, bukan untuk dibagi-bagikan langsung kepada rakyat kecil sebagaimana selama ini didongengkan. Maka itulah pulalah, di luar konteks kesaktiannya,  Pitung amat sulit ditangkap oleh Belanda, karena banyak tokoh yang melindungi.

Sejak saat itu juga Pitung kemudian menjadi buronan dengan Messter Cornelis. Dia kemudian memerintahkan Komisaris Polisi Batavia, Scouth Van Heyne untuk menangkap pitung. Bahkan karena sudah bikin tuan tanah takut, sampai ada sayembara penangkapan si Pitung.
Baca Juga: Sekali Poles...! Gembong PKI KEBAL PELURU Ini TUMBANG di Tangan Sang Letnan.
Dalam pelarian, Pitung berlindung dari kampung ke kampung lainnya di daerah Batavia. Beberapa kali pitung nyaris tertangkap. Dengan segala cara, Si Pitung dapat ditangkap dan dijeboskan ke dalam penjara Meester Cornelis pada 1891. Namun, karena kesaktiannya, Pitung pun berhasil meloloskan diri. 

Kesaktian Pitung

Pitung menurut Bachtiar juga merupakan representasi pemuda Betawi saat itu. Dia kerap memakai baju dan celana warna merah serta ikat pinggang khas Betawi. Di ikat pinggang itu juga terselip sebilah golok yang sering dibawa untuk menghadapi musuh-musuhnya. Bahkan ada cerita jika golok itu merupakan senjata sakti milik Pitung. 

Selain golok, Pitung juga memiliki benda sakti lain. Bachtiar menyebut jika sarung sering dibawanya merupakan sarung sakti. Sarung itu juga biasa digunakan si Pitung untuk melakukan ibadah salat. Ada cerita soal kesaktian sarung si Pitung. Jika digunakan untuk melawan penjahat, sarung itu bisa melumpuhkan lawan.

Menurut cerita rakyat yang masih hidup di masyarakat Betawi, salah satu ilmu kesaktian yang dipelajari  Pitung disebut Rawe Rontek. Gabungan antara tarekat Islam dan jampe-jampe Betawi. Dengan menguasai ilmu ini Pitung dapat menyerap energi lawan-lawannya. Seolah-olah lawan-lawannya itu tidak melihat keberadaan Pitung.

Karena itu dia digambarkan seolah-olah dapat menghilang. Menurut cerita rakyat, dengan ilmu kesaktian rawa ronteknya itu, Pitung tidak boleh menikah. Karena sampai hayatnya ketika ia tewas dalam menjelang usia 40 tahun Pitung masih tetap bujangan.

Ada versi tentang kuburannya, katanya badannya dibelah, dikubur di beberapa tempat seperti Jembatan Lima dan Pulau Onrust. Tujuannya, supaya badannya tidak menyatu lagi karena Pitung punya ilmu Rawe Rontek, mati bisa hidup lagi.
Baca Juga: Kisah NEKAT & HEROIK Sang Patriot: Menjemput GUGUR dengan GAGAH Diantara SERPIHAN Kapal Perang

Eksekusi Mati

Pitung akhirnya menyerahkan diri kepada Belanda setelah mengetahui gurunya, Haji Naipin dan kedua orangtuanya dijadikan sandera oleh Schout Van Heyne. Setelah menyerahkan diri, Pitung dieksekusi mati oleh Belanda dengan hukuman tembak.

Menurut koran Hindia Olanda (18-10-1893:2), sebelum ditangkap Pitung dalam keadaan rambut terpotong, beberapa jam sebelum kematiannya pada hari Sabtu. Seperti yang diceritakan dalam legenda, kesaktian Pitung hilang akibat jimat-nya diambil. Versi lain menyatakan, Pitung dapat dikalahkan jika dipotong rambutnya. Berdasarkan koran Hindia Olanda, sebelum kematiannya Pitung telah dipotong rambutnya.

Berdasarkan cerita rakyat versi lainnya, Pitung mati setelah ditembak dengan peluru emas Schout van Hinne dalam suatu penggerebekan karena ada yang mengkhianati dengan memberi tahu tempat persembunyiannya.

Ia ditembak dengan peluru emas  Schout van Hinne (setara Kapolres) karena dikabarkan kebal dengan peluru biasa. Begitu takutnya penjajah terhadap si Pitung, sampai tempat ia dimakamkan dirahasiakan.

Namun cerita soal kesaktian Pitung justru diluruskan oleh Haji Nunung, Sesepuh Kampung Rawa Belong ini menuturkan jika Pitung tidak memiliki kesaktian seperti dalam film. Menurut dia, kesaktian si Pitung merupakan buah dari ajaran agama yang dijalankan. Bahkan Nunung juga mengatakan jika Pitung tidak kebal ditembak dan di bacok oleh musuhnya.

Baca Juga:


Sumber: merdeka.com | metro.news.viva.co.id

Thursday, January 26, 2017

Saat Bambu Runcing Berbalur Kotoran Kuda Berbicara...


Patriot NKRI - Di pagi hari yang dingin, bersama 18 orang kawan-kawannya mereka mengendap-endap di suatu bukit hijau yang mengapit jalan setapak, rute yang dikatakan telik sandi kesatuannya, akan dilewati patroli militer Belanda. Tak ada senjata api kecuali stengun yang dipegang Letnan Anwar (itupun pelurunya terbatas). Semuanya masing-masing hanya memegang sebilah bambu runcing yang dibuat mendadak di hutan Caringin (terletak di tenggara Cianjur) malam harinya. Satu menit, lima menit, seperapat jam, setengah jam waktu terus berlalu dalam sunyi dan tarikan nafas mereka yang tertahan. Suasana tegang mencekam. Itulah situasi yang dituturkan Sjafta (90 th) yang masih ingat kejadian 68 tahun lalu itu. 
Baca Juga: Misteri Dentasemen Harimau: Rajanya Pasukan Khusus Indonesia Paling MISTERIUS
Begitu waktu satu setengah jam berlalu, dari kejauhan tiba-tiba terdengar suara orang-orang berbicara dalam bahasa Belanda. Rupanya patroli yang mereka tunggu sudah mulai datang. Jumlahnya sekitar 9 prajurit yang sebagian besar bule totok dengan seragam hijau kekuning-kuningan dan senjata api di tangan. ” Mereka berjalan tak teratur, dan dalam posisi lengah…”kata Sjafta. Begitu rombongan tersebut ada di bawah mereka, Letnan Anwar meneriakan aba-aba untuk menyerbu. ” Seraaaaaaaaaaaaaaaangggg!!!”

Belasan anak muda pun berloncatan. Teriakan beringas bersanding dengan jeritan panik para serdadu yang usianya rata-rata sama dengan para penyerang. Bisa dikatakan, penghadangan itu sukses besar: sembilan serdadu musuh ditaklukan dan semua senjatanya berhasil dirampas oleh pasukan Letnan Anwar.

Di tengah minimnya senjata (sepuluh berbanding satu), kalangan petarung republik memilih bambu runcing sebagai alat untuk menghadapi musuh mereka. Sebagai senjata, bambu runcing mulai dikembangkan semasa pendudukan Jepang, yang saat itu dikenal dengan sebutan takeyari. Sejatinya bilah bambu ini digunakan untuk menghadang pasukan payung musuh yang diterjunkan dari udara. Tentara Jepang juga melatih laki-laki dan perempuan cara menggunakan takeyari, yang kalau digunakan biasanya dibarengi teriakan keras dan pekik kemarahan. ” Laiknya seorang prajurit tengah menggunakan senapan bersangkur,” tulis R.H.A. Saleh dalam Mari Bung, Rebut Kembali!
Baca Juga: Wow...! Begini Aksi Raider TNI AD Yang Bikin KAGUM dan TAKJUB. Ranger AS Langsung Minta BERGURU..!
Semasa dididik menjadi perwira Pembela Tanah Air (PETA) di Bogor pada 1944, almarhum Moestopo pernah menjadikan bambu runcing sebagai tema “disertasi-nya”. Di hadapan para perwira tinggi Jepang, ia berhasil mempertahankan karya tulisnya yang berjudul ‘Penggunaan Bambu Runcing yang Pucuknya Diberi Tahi Kuda Untuk People Defence dan Attack serta Biological War Fare’. Tidak hanya lulus dan menjadi yang terbaik, karyanya ini malah mendapatkan pujian setinggi langit dari militer Jepang saat itu.

Dan memang banyak cara dilakukan oleh para petarung republik untuk menjadikan bambu runcing miliknya “bukan hanya sekadar bambu”. Dalam bukunya bejudul “Guruku Orang-Orang Pesantren”, Syaifuddin Zuhri menyebut figur Kiyai Haji Subkhi, seorang ulama besar di Parakan, Temanggung yang pada masa revolusi kemerdekaan dijuluki sebagai Kyai Bambu Runcing. Julukan itu tercipta karena Kiyai Subkhi menciptakan sejenis bambu runcing yang disepuh doa untuk nantinya digunakan para petarung republik di medan laga.

Uniknya, para petarung yang datang ke Parakan bukan saja berasal dari kalangan santri semata. Para lasykar yang tergabung dalam barisan kaum kiri pun seperti Barisan Banteng di bawah pimpinan dr. Muwardi, Lasykar Rakyat dibawah pimpinan Ir. Sakirman (tokoh PKI) dan Laskar Pemuda Sosialis Indonesia (Pesindo) di bawah pimpinan Krissubbanu juga mendatangi Kiyai Subkhi sekadar untuk mendapatkan barokahnya!
Baca Juga: Kisah Penyergapan Dukun PKI: Ngaku KEBAL Senjata...!
Selagi menjadi Panglima Divisi III TRI untuk wilayah Priangan, almarhum Jenderal A.H. Nasution pernah memiliki kisah lucu terkait bambu runcing ini. Pada April 1946, ia berkesempatan menemani Kepala Staf Umum Markas Besar Tentara (MBT) Letnan Jenderal Oerip Soemohardjo melakukan inspeksi ke wilayah Tanjungsari, Sumedang.

Begitu rombongan Pak Oerip sampai di lapangan, serentak komandan pasukan berteriak: “ Hormat senjataaaaa!”. Namun bukan bedil yang diangkat melainkan bambu runcing. Seolah tidak ada masalah, Pak Oerip membalas sikap hormat itu dengan khidmat layaknya seorang komandan tertinggi terhadap pasukannya. Namun sambil berjalan memeriksa barisan pasukan bambu runcing tersebut, Pak Oerip masih sempat berbisik dalam nada gurauan kepada Pak Nas: “ Nas, kamu suruh aku periksa pagar bambu ya?” 

Sumber: arsipindonesia.com

Monday, January 23, 2017

Komando..! Komando..! Semua tiarap..! Tiarap!...Detik-Detik Paling MENEGANGKAN Bagi Kopassus. Dunia Terperangah..!

NKRI123 - Keberhasilan ini membuat dunia terperangah. Mereka tak menyangka pasukan Indonesia bisa melakukan operasi khusus yang selama ini baru dilakukan militer negara maju.

Operasi Woyla mengangkat nama Kopassus TNI AD ke jajaran pasukan elite dunia. Saat itu sebenarnya TNI belum punya pasukan khusus yang benar-benar siap untuk misi antiteror. Namun terbukti mereka mampu menjalankan tugas dengan baik dengan pembebasan sandera DC-9 .

Tak ada satu pun sandera yang terluka dalam misi ini. Lima orang pembajak berhasil ditembak mati. Keseluruhan operasi tanggal 31 Maret 1981 ini hanya berlangsung tiga menit.
Baca Juga: Wow...! Begini Aksi HEBAT Raider TNI AD. Ranger AS Langsung Minta BERGURU..!
Keberhasilan ini membuat dunia terperangah. Mereka tak menyangka pasukan Indonesia bisa melakukan operasi khusus yang selama ini baru dilakukan militer negara maju.

Sebenarnya tak cuma pihak asing yang ragu. Kepala Operasi Pembebasan Sandera Letjen Benny Moerdani pun memperkirakan keberhasilan timnya 50:50.

Satu hal yang terungkap, Benny ternyata sudah menyiapkan 17 peti mati dalam operasi itu. Hal itu sesuai dengan perkiraan Benny bakal jatuh banyak korban dalam misi pembebasan sandera.

"Ternyata perkiraan ini meleset, karena seusai operasi penanggulangan teror, hanya diperlukan lima peti jenazah bagi pembajak," kata Letkol Sintong Panjaitan yang memimpin operasi tersebut.

Sintong Panjaitan menceritakan peristiwa tersebut dalam buku biografinya, Perjalanan Seorang Prajurit Para Komando. Buku ini ditulis Hendro Subroto dan diterbitkan Penerbit Buku Kompas tahun 2009.

Aksi Pembajakan

"Komando! Komando! Semua tiarap! Tiarap!"

Teriakan itu mengejutkan semua orang di dalam kabin pesawat DC-9. Jam menunjukkan pukul 02.45 waktu Bangkok. Secara cepat tim penyergap antiteror menerobos masuk pesawat.

Tembakan senapan serbu semiotomatis terdengar menyalak beberapa kali. Drama penyanderaan pesawat Garuda DC-9 Woyla di Bandara Don Muang, Thailand itu berakhir dalam waktu tiga menit.

Penyanderaan pesawat Garuda GA-206 'Woyla' rute Jakarta-Medan itu dimulai Sabtu 28 Maret 1981. Setelah transit di Palembang, tiba-tiba seorang pria berpistol memasuki ruangan kokpit.
Baca Juga: Sekali Poles...! Gembong PKI KEBAL PELURU Ini TUMBANG di Tangan Sang Letnan.
Kapten Pilot Herman Rante dipaksa mengalihkan penerbangan ke Colombo, Srilanka. Namun Herman menjelaskan bahan bakar pesawat tak cukup. Akhirnya pesawat mendarat di Penang, lalu kemudian menuju Bandara Don Muang, Bangkok.


Pihak intelijen Indonesia menyebut kelima orang pembajak berasal dari kelompok Komando Jihad. Mereka adalah Zulfikar T Djohan Mirza, Sofyan Effendy, Wendy Mohammad Zein, Mahrizal dan Mulyono.

Pembajak menuntut pemerintah Indonesia membebaskan 80 anggota Komando Jihad yang dipenjara karena beberapa kasus. Antara lain penyerangan Mapolsek Pasir Kaliki, Teror Warman di Raja Paloh dan aksi lainnya sepanjang 1978-1980. Selain itu, mereka juga meminta uang USD 1,5 juta.

Presiden Soeharto menjawab tuntutan itu dengan aksi militer. Asintel Panglima ABRI Mayjen Benny Moerdani menjelaskan keberhasilan operasi militer adalah 50:50.

Masalahnya saat itu seluruh kekuatan ABRI sedang menggelar latihan gabungan di Ambon. Begitu juga dengan para prajurit Kopasandha. Para pasukan yang sudah melakukan latihan antiteror malah sedang mengikuti Latgab di Ambon.

Perwira paling senior di Markas Baret Merah itu tinggal Letkol Sintong Panjaitan. Perwira menengah tersebut tak ikut ke Ambon karena kakinya patah saat mengikuti latihan terjun payung. Untuk berjalan saja, Sintong harus dibantu tongkat. 

Kini dia yang harus memimpin operasi pembebasan sandera itu. Uniknya, Sintong akhirnya memaksakan diri berjalan tanpa tongkat begitu Komandan Kopasandha Brigjen Yogie S Memet memerintahkannya memimpin operasi.

"Masak komandan memimpin operasi militer pakai tongkat," kata Sintong.

Dalam waktu singkat Sintong memilih pasukan yang tersedia di Mako Kopasandha. Seluruh prajurit baret merah yang kelak bernama Kopassus ini bersemangat mengikuti operasi tersebut.
Baca Juga: Si GANTENG, Direktur AKADEMI MILITER Tangerang, PERWIRA Berusia 17 Tahun. GUGUR Diberondong Peluru
Sintong sadar. Waktu melatih pasukan ini cuma beberapa hari. Selama tim berlatih di Hanggar Garuda, pemerintah Indonesia terus melobi Kerajaan Thailand agar diperbolehkan menggelar operasi militer.

Tanggal 30 Maret 1981 pasukan bertolak ke Bangkok. Sambil menunggu jam 'J' mereka terus berlatih.

Akhirnya lampu hijau diberikan pemerintah Thailand. Pasukan Komando Indonesia diberi izin melakukan operasi militer di Bandara Don Muang. Disepakati waktu penyerangan adalah jam 03.00.

Namun diputuskan waktu penyerangan dimajukan. Dengan sigap para prajurit itu melakukan tugasnya. Lima orang pembajak ditembak mati. Tak ada satu pun sandera yang terluka.

Pembebasan yang dramatis

Lima pembajak yang ditembak adalah Abdullah Mulyono, Wendy Mohammad Zein, Zulfikar, Mahrizal dan Abu Sofyan.

Dalam operasi tersebut, Abdullah Mulyono sempat berusaha merebut senjata tim penyerbu. Namun dia ditendang keluar dan tergelicir lewat peluncur. Mulyono segera ditembak sub tim yang berjaga di bawah hidung pesawat.

Sementara itu Wendy Mohammad Zein ditembak di dekat pintu darurat. Pembajak lainnya, Zulfikar, berusaha melarikan diri lewat sayap pesawat. Namun dia dipergoki dan tewas dihantam peluru M-16 tim yang berjaga di luar pesawat.

Perlawanan paling seru diberikan Mahrizal, dia sempat menembak jatuh anggota tim antiteror Capa Ahmad Kirang. Tembakan itu melukai perut bawah Kirang. Mahrizal juga menembak seorang lainnya, namun mengenai rompi anti peluru. Pasukan Komando segera membalas dengan tembakan senapan MP5 hingga Mahrizal tewas di dekat Pramugari.
Baca Juga: Kisah HEROIK Mayor Dimara: Bikin Presiden Soekarno KAGUM, Hingga Bikin Patung Raksasa
Satu yang terakhir, Abu Sofyan, berniat meloloskan diri. Dia ikut turun bersama para penumpang yang dievakuasi keluar pesawat. Namun seorang penumpang mengenali Abu Sofyan dan berteriak.

Abu Sofyan berlari menjauhi pesawat. Namun dengan sigap pasukan antiteror segera menembaknya. Dia tewas seketika.

Keberhasilan misi itu diwarnai duka. Capa Ahmad Kirang dan Kapten pilot Herman Rante yang tertembak tewas beberapa hari kemudian di rumah sakit. Keduanya dimakamkan di Taman Pahlawan Nasional. Kopassus mendirikan monumen Ahmad Kirang di Markas Sat-81 Gultor Cijantung.

Sumber: merdeka.com

Balada Ketika R.A. Kartini Kepincut Haji Agus Salim Muda


Patriot NKRI - AGUS Salim muda pernah membuat Raden Ajeng Kartini kepincut. Anak pintar yang sebelum masuk ke gelanggang politik, lama jadi wartawan.

Di balik sumbangan besar pemikiran Haji Agus Salim untuk bangsa Indonesia, ada kecerdasannya yang luar biasa. Mohammad Natsir menyebut, kalau hendak menggunakan kualifikasi intelektual brilian pada salah satu putra Indonesia, maka yang paling pertama tepat ialah pada Haji Agus Salim.
Baca Juga: Heboh...! Panglima Perintahkan Prajurit TNI Tidur di Rumah Warga, Ada Apa?
Lahir di Koto Gadang, Agam, Sumatera Barat pada 8 Oktober 1884 dengan nama Mashudul Haq, sohor di rantau dengan nama Haji Agus Salim. Pada tahun 1891, ketika usia Agus Salim menginjak tujuh tahun, dimasukinya sekolah dasar Belanda, yaitu ELS (Europeesche Lagere Scholl) di Bukittinggi. Ketika Agus Salim duduk di bangku ELS, kecerdasan otaknya telah menarik perhatian guru-gurunya orang Belanda, rasa simpati mereka terlihat dengan permintaan ingin membina dan mengarahkan Agus Salim sepenuhnya baik di sekolah maupun di rumahnya.

Namun permintaan tersebut ditolak oleh kedua orang tua Agus Salim. Hanya diizinkannya ketika saatnya makan pagi, siang dan malam, ditambah waktu sesudahnya, boleh tinggal di rumah orang tuanya.

Pada usia 13 tahun, sesudah tamat dari ELS dengan gemilang (1898), Agus Salim berangkat menuju Jakarta melanjutkan sekolahnya. Dengan kapal laut ditinggalkannya kampung halaman, ayah ibunya, dan sanak familinya pergi merantau ke daerah seberang. Selanjutnya dimasukinya HBS (Hoger Burgelijke School),yaitu sekolah menengah Belanda di Jakarta.
Baca Juga: Balada Sang Letnan KEBAL PELURU, MENANGIS Terisak Dipelukan Jendral Soedirman
Dalam tempo lima tahun, Agus salim selesai dan berhasil menempuh ujian di HBS (1903) dengan nilai terbaik sekaligus menjadi juara. Dia adalah siswa terbaik dari tiga HBS di Hindia Belanda ketika itu. 

Saat itu dapat dikatakan hampir tidak ada anak pribumi yang duduk di bangku HBS, terkecuali dari Agus Salim dan P.A.Hoesein Djajaningrat (Doktor pertama di Indonesia), dan yang lain anak-anak bangsa Eropa. Kecerdasan otaknya yang luar biasa diakui oleh gurunya yang juga oleh sarjana-sarjana Belanda. Bahkan menurut ramalan-ramalan gurunya, kelak kemudian hari Agus Salim menjadi orang penting bagi bangsanya.

Sepucuk Surat Kartini

Saat berusia 19 tahun, namanya sudah disebut-sebut. Kecerdasannya membuat Raden Ajeng Kartini kepincut.

“Kami tertarik sekali kepada seorang anak muda. Kami ingin melihat dia dikarunia bahagia. Anak muda itu namanya Salim,” tulis Kartini dalam sepucuk surat kepada Ny. Abendanon, 24 Juli 1903, termuat dalam buku Habis Gelap Terbitlah Terang.
Baca Juga: MANTAP JIWA...! Inilah Deretan Senjata-Senjata LEGENDARIS KOPASSUS. [Nomor 5 Sangat SPESIAL] Kamu Wajib Tahu...!
Agus Salim, lanjut Kartini, “dalam tahun ini (1903–red), mengikuti ujian penghabisan sekolah menengah HBS, dan ia keluar sebagai juara. Juara pertama dari ketiga-tiga HBS!”

HBS singkatan dari Hogere Burger School, sekolah menengah atas lima tahun. Ketiga-tiga HBS yang dimaksud Kartini; Jakarta, Semarang dan Surabaya.

“Anak muda itu ingin sekali pergi ke Negeri Belanda untuk belajar menjadi dokter. Sayang sekali, keadaan keuangannya tidak memungkinkan,” sambung Kartini.

Lulusan terbaik  (HBS) 1903 itu bukan tak berusaha. Pernah mengajukan beasiswa, namun ditolak.

Kartini mengalihkan beasiswa

Kartini mengalihkan beasiswa ke Belanda yang didapatnya dari pemerintah kepada Agus Salim. Pemerintah setuju. Tapi, pemuda yang pandai berbahasa Belanda, Inggris, Arab, Turki, Prancis, Jepang dan Jerman itu menolak.

Rupanya, Agus Salim menganggap cara yang demikian itu adalah penghinaan terhadap dirinya. Akhirnya tawaran itupun ditampiknya seraya mengatakan: "Kalau pemerintah mengirim saya karena anjuran kartini, bukan karena kemauan pemerintah sendiri, lebih baik tidak," dikutip dari buku Tokoh-tokoh Pemikir Paham Kebangsaan. Sejak peristiwa itu, diputuskannya minat untuk tidak melanjutkan sekolah.

Baik Kartini, pun Agus Salim sama-sama tak berangkat ke Belanda. Raden Ajeng kita menikah dan menetap di Jawa lantaran perjodohan yang diatur orang tuanya.

Agus Salim berangkat ke Arab, kerja sebagai penerjemah di konsulat Belanda, sembari berguru kepada Syekh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi, imam besar Masjidil Haram–guru Ahmad Dahlan (pendiri Muhammadiyah) dan Hasyim Asyari (pendiri NU).

Pada 1912 dia pulang kampung ke Koto Gadang. Sempat mendirikan sekolah, tiga tahun kemudian merantau lagi ke Jawa dan memulai karir di bidang jurnalistik.
Baca Juga: Aksi Heroik Dan Menegangkan..! Duel Maut Sampai Mati: Satu Lawan Satu Kopassus vs Gerilyawan PGRS
Wartawan Pergerakan

“Agus Salim diangkat sebagai pemimpin redaksi bahasa Melayu pada Commissie voor de Volkslectuur yang kelak berkembang menjadi Balai Pustaka,” tulis St. Sularto, dalam buku biografi Agus Salim.

Ajip Rosidi dalam Penerbitan Buku Bacaan dan Buku Sastra di Indonesia, termuat dalam Prisma, No. 4, Thn. VII, 1979 menulis, nama lembaga itu dirubah jadi Balai Pustaka atas usul Haji Agus Salim yang bekerja di sana sejak 1917 hingga 1919.

Di samping Balai Pustaka, lelaki yang di kemudian hari mejadi pimpinan Sarekat Islam (SI) itu juga bekerja sebagai redaktur surat kabar Bendera Islam dan redaktur Bataviaasch Niewsblad.

Saat aktif di Sarekat Islam, dia mendirikan dan “menjadi pemimpin redaksi surat kabar Hindia Baroe (Jakarta) dan Fadjar Asia (Yogyakarta) yang didirikannya bulan November 1927 bersama HOS Tjokroaminoto,” tulis St. Sularto.

Agus Salim memainkan perang sebagai juru runding ketika Republik Indonesia baru merdeka. Dia dijuluki diplomat ulung.

Baca Juga: 


Sumber: Merdeka.com | JPNN | Liputan6.com

Sunday, January 22, 2017

LUCU & Dramatis: Kisah Kopassus SERGAP Musuh di Belantara Jabar

NKRI123 - Di dada kiri seragam hijaunya, masih tersemat wing terjun dan brevet komando. Pria itu bernama Supardi. Seorang pensiunan letnan TNI yang kenyang dengan bau mesiu di medan tempur. Usianya sudah 85 tahun, namun tubuhnya masih tegap. 
Supardi dulu masuk generasi awal pasukan khusus TNI AD. Dulu namanya masih Korps Komando Angkatan Darat (KKAD). Kini pasukan inilah yang dikenal sebagai Kopassus.


KKAD dibentuk atas prakarsa Panglima Teritorium Siliwangi Kolonel Alex Kawilarang. Tahun 1953 pasukan TNI di Jawa Barat kesulitan menghadapi perlawanan gerilya Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII).
Baca Juga: HERCULES Sang Mantan PEJUANG NKRI: Kisah dan Fakta SANGAR Preman Yang Pernah Ditakuti Seantero Jakarta. 
Gerilyawan DI/TII sangat ahli bergerak di belantara hutan Jawa Barat. Pasukan reguler TNI kesulitan mengejar mereka. Karena itu Kawilarang menilai perlu ada pasukan khusus yang mampu bergerak dalam unit-unit kecil. Bisa menusuk jauh ke daerah pertahanan lawan dan bertempur dengan efektif terus menerus.

Latihan KKAD digelar di Batujajar dan Situ Lembang, Bandung Utara. begitu lulus komando, pasukan baru ini diterjunkan memburu DI/TII di Garut dan Tasikmalaya. Namanya pasukan khusus, penyergapan pun lain dengan pasukan reguler.

"Dulu pasukan bergerak pelan-pelan dalam hutan. Ranting atau daun yang diinjak dirapikan kembali, sehingga tak ada bekas pernah dilalui. Pengintaian pun dilakukan dari jarak dekat," kenang Supardi.
Dalam sebuah penyergapan, pasukan baret merah ini pernah bersembunyi dekat sekali dengan musuh. Hebatnya, kehadiran mereka sama sekali tak dirasakan patroli DI/TII.

"Jaraknya paling hanya lima meter. Saking dekatnya kita bisa rasakan sepatu-sepatu musuh itu seolah hampir menginjak kita yang tiarap. Kita tunggu seluruh patroli musuh melintas, baru disergap dari belakang," jelasnya.

Ada cerita unik dari misi penyergapan lain. Saat itu para anggota DI/TII sedang menggelar acara kenduri di markas yang terletak di tepi hutan. Mereka menyembelih kerbau dan membuat sate. Pasukan KKAD yang mengintai dari jarak dekat menunggu sampai sate matang. Setelah tercium aroma sate dan melihat musuh tak siap, mereka langsung merangsek maju.
Baca Juga: Komando..! Komando..! Semua tiarap..! Tiarap!...Detik-Detik Paling MENEGANGKAN Bagi Kopassus. Dunia Terperangah..!
"Langsung kita maju, kita todong. Angkat tangan semua! Mereka menyerah tanpa perlawanan. Kita makan satenya. Pasukan DI/TII yang ditahan melihat kita dengan pandangan kesal karena satenya dimakan. Kita balas pelototi, apa lihat-lihat, " kata Supardi.

Selain operasi militer, pendekatan teritorial pun dilakukan TNI. Mereka mengimbau agar sisa-sisa pasukan DI/TII yang masih bertahan segera menyerah. Kunci menghadapi gerilyawan adalah mengambil hati rakyat.

Sumber: merdeka.com

Saturday, January 21, 2017

Kisah JAGAL Belanda Pembantai TNI dan 40 Ribu Rakyat Indonesia. KEJAM dan BIADAB...!


Patriot NKRI - Sang kapten pun gemar menembak orang yang ditemuinya di jalan. Enteng saja dia membunuh orang yang diduga pejuang kemerdekaan.

Kapten Raymond Westerling adalah veteran perang dunia II. Usai perang dunia II, Belanda ingin kembali berkuasa di Indonesia. Saat itulah Westerling ditugasi melatih pasukan elite Belanda di Indonesia, Depot Speciale Troepen, tahun 1946. Westerling memilih orang-orang yang kebanyakan kejam dan berangasan, tapi memiliki skill militer yang menonjol.

Westerling kemudian dikirim ke Sulawesi. Dia ditugasi memadamkan perlawanan gerilyawan Republik di sana. Maka Westerling berangkat dengan 130 pasukan baret hijau miliknya.
Baca Juga: Balada Sang PAHLAWAN Kemerdekaan RI dari KOREA - YANG CHIL SUNG: Permintaan TERAKHIRNYA Bikin Merinding...!
Westerling melakukan teror di Sulawesi. Dia berkeliling satu kampung ke kampung lainnya dengan jeep. Di satu kampung yang diduga markas gerilyawan, Westerling akan mengumpulkan orang-orang di tanah lapang. Lalu dia akan menembaki mereka satu persatu hingga ada yang memberi tahu lokasi para gerilyawan.

Hobi menembak

Westerling juga punya hobi menembak. Biasanya jika ada gerilyawan yang tertangkap, Westerling akan menyuruhnya lari. Setelah jaraknya 50 meter, Westerling akan mengacungkan senjatanya dan dorrr! Gerilyawan itu akan tewas dengan lubang di kepala.

Sang kapten pun gemar menembak orang yang ditemuinya di jalan. Enteng saja Westerling membunuh orang yang diduga pejuang kemerdekaan. Prajurit baret hijau Westerling tak kalah kejam dari komandannya. Mereka membunuh dan memperkosa rakyat sebagai kesenangan. 
Baca Juga: WOW...! Karena INDONESIA, Amerika KALAH Perang di Vietnam. Ternyata Ini RAHASIANYA...!
Serdadu baret hijau itu sangat loyal pada Westerling. Pasukan di Sulawesi itulah cikal bakal Korps Speciale Troepen (KST). Mereka juga yang nantinya ikut Westerling memberontak di Bandung. 

Bukan hanya rakyat Sulawesi, sesama tentara Belanda yang asli bule pun takut pada Westerling. Mereka merasa apa yang dilakukan Westerling terlalu brutal.

Kekejaman Westerling akhirnya terendus pers Belanda. Mereka menulis kekejaman yang dilakukan Westerling di koran-koran Belanda. Tentu saja hal ini jadi sorotan. Masyarakat Eropa masih segar dengan ingatan akan kekejaman Nazi Jerman. Kini setelah Nazi kalah, Belanda melakukan kekejaman yang sama di Indonesia. Masyarakat Eropa muak akan kekejaman itu.

Maka mau tak mau pimpinan militer Belanda menarik Westerling dan pasukannya dari Sulawesi. Westerling dipindahkan ke Batujajar, Bandung. Dia kembali ditugasi melatih pasukan baret hijau Belanda.
Antara tahun 1946-1947 di Sulawesi, masyarakat mencatat Westerling membunuh 40 ribu jiwa. Sementara itu Belanda mengaku hanya membunuh 2 ribu orang. Westerling sendiri tak pernah diadili atas kejahatan perang yang dia lakukan. Hingga akhir hayatnya.

Monumen Pembantaian Westerling

11 Desember diperingati sebagai hari berkabung rakyat Sulawesi Selatan. Peringatan itu ditandakan untuk mengenang kembali peristiwa jatuhnya korban yang tidak terhitung jumlahnya akibat teror 123 tentara Belanda pimpinan Kapten KNIL, Raymond Paul Piere Westerling.

Inilah monumen korban 40 ribu jiwa, bukti catatan peradaban sejarah yang menjadi lokasi wisata di Kota Makassar. Di tempat monumen didirikan, telah terjadi pembantaian besar-besaran yang dilakukan oleh Westerling. Pembantaian ini terjadi pada 1946-1947. Dalam catatannya, kepala Korp Pasukan Khusus (Korps Speciale Troepen) itu kerap menerapkan metode pembersihan yang cenderung membabi buta.

Monumen Weterling
Monumen dengan simbol patung tanpa lengan dan tanpa kaki sebelah adalah ungkapan bentuk pembantaian yang tidak terhingga, di mana prosesi pembantaian Westerling dimulai pada subuh hari, 11 Desember 1946, di Desa Batua Makassar.
Baca Juga: Kisah HEROIK Kiai Subchi: Sang LEGENDA Bambu Runcing, ULAMA Besar Rendah Hati, GURU Jenderal Soedirman
Sepenggal cerita ini pun berawal dari 3.000 jiwa dikumpulkan di lapangan terbuka dengan 44 orang dianggap teroris, termasuk 9 pemuda yang mencoba melarikan diri. Semua dibantai.

Kekejaman pun berlanjut dengan terjadinya penembakan dan pembakaran di kawasan Tanjung Bunga, berlanjut pembunuhan pada 16 Desember 1946 dengan menewaskan 33 penduduk Sulawesi Selatan yang dianggap menjadi gerilyawan. Semua dibunuh. Dibantai. Pembantaian berlanjut ke Kabupaten Gowa dengan menewaskan 257 orang.

Di balik kisahnya, aksi Westerling pun berakhir pada 16-17 Februari 1947. Namun, gejolak kembali terjadi di Mandar yang menelan korban 364 jiwa. Belanda baru mengakhiri dan menarik pasukan dari Sulawesi Selatan pada 21 Februari 1947.

Diorama Pembantaian Westerling

Monumen tersebut letaknya sekitar 4 kilometer sebelah utara pusat kota Makassar.



Indonesia telah merdeka, namun pembantaian tetap membekas dalam nadi rakyat Sulsel. Relief pada dinding-dinding monumen menandai kepedihan rakyat Sulsel. Ada juga patung dengan tinggi sekitar 4 meter yang menggambarkan korban selamat, tetapi kaki buntung dan salah satu lengannya menggunakan penyangga.

Bangunan dengan corak pagar berwarna merah tetap dilestarikan dan menjadi ingatan bagi para sanak keluarga yang ditinggal.

Baca Juga:



Sumber: merdeka.com | viva.co.id

Friday, January 20, 2017

Balada Sang PAHLAWAN Kemerdekaan RI dari KOREA - YANG CHIL SUNG: Gugur di Ujung Peluru Regu Tembak PENJAJAH. Permintaan TERAKHIRNYA Bikin Merinding...!

Patriot NKRI - SUNGGUH tak banyak lagi diingat orang. Peristiwa tragis seakan harus membatas kehidupan Yang Chil Sung di tegalan “Kherkoff” (“Gelora Merdeka”), Garut. Serdadu asal Korea yang dianggap sebagai tentara Jepang itu gugur, setelah dieksekusi Belanda, 10 Agustus 1949.

Akan tetapi, jasad Yang Chil Sung dibaringkan di balik bumi Taman Makam Pahlawan “Tenjolaya” Garut, dengan gelar kehormatan sebagai pahlawan kemerdekaan. Itu keunikan peristiwa kesejarahan. Seorang serdadu Korea, mendapat pengakuan pahlawan kemerdekaan negeri ini.
Baca Juga: Balada Sang Letnan KEBAL PELURU, MENANGIS Terisak Dipelukan Jendral Soedirman
Kepergian Yang Chil Sung, lalu mengalirkan serpihan kenangan perjuangan yang amat dramatis. Tentu, karena pemerintah Belanda memvonis hukuman mati itu untuk tiga serdadu Jepang, yang berganti nama Indonesia. Mereka terdiri dari Komarudin, Abubakar, dan Usman. Ketiganya aktif membantu aksi gerilyawan kemerdekaan Indonesia.

Namun Komarudin alias Yanagawa Sichisci, diketahui kemudian bernama asli Yang Chil Sung, tentara dari Korea. Hanya Abubakar dan Usman, serdadu Jepang yang bernama asli Hasegawa dan Masashiro Aoki.

Mereka bersama Komarudin, bergabung ke dalam pasukan “Pangeran Papak” Markas Besar Gerilya Galunggung (MBGG) pimpinan Mayor Kosasih, yang bermarkas di Kecamatan Wanaraja, Garut. Dengan pasukan itu pula, mereka pernah ikut tempur dalam peristiwa Bandung Lautan Api.

Eksekusi di Lapang “Kherkoff”, menggores luka dalam hati para pejuang kemerdekaan di Garut. Terlebih bagi R Djuhana, Wakil Komandan Batalyon “Pangeran Papak”. Pejuang ini mengaku, seharusnya menjalani hukuman mati itu bersama mereka.

“Alhamdulillah saya selamat, karena saya bisa berbahasa Belanda! Saya melakukan pembelaan dan perlawanan dulu” tutur R. Djuhana dalam kenangan pertemuan di Ngamplang Garut, 19 Agustus 1995, di depan perwakilan warga Korea.
Baca Juga; Inilah Pasukan Elite TONTAIPUR. Laksana HORNET Raksasa Yang Mematikan...DAHSYAT..!
Saat itu, acara digelar selepas upacara kemiliteran untuk pergantian batu nisan Yang Chil Sung, yang dipimpin Kepala Staf Kodam III/Siliwangi Brigjen TNI Rachmat HS Mokoginta. Sejumlah kawan seperjuangan alm. Komarudin lainnya, seperti H Ajiji, Momod, E Sutisna, Uwe, Endi, Umung serta Sopian, menguatkan kesaksian tentang semangat perjuangan serdadu asal Korea itu. Komarudin pun berjasa, karena turut melatih para pejuang dalam pasukan itu.

Penuturan Kim Tay Wong, perwakilan warga Korea, menyebutkan, Yang Chil Sung pada 1942 bertugas sebagai penjaga tawanan perang tentara sekutu di Korea. Semasa Jepang menguasai Korea sejak 1908, warga Korea dipaksa berganti nama seperti orang Jepang. Lebih dari 1.000 warga Korea, termasuk Yang Ching Sung yang berganti nama Yanagawa Sichisci, dipaksa pula harus turut bertempur di Indonesia.

Namun, setelah Korea merdeka, Yang Chil Sung tak pernah kembali ke negerinya. Kabar yang terumbar kemudian, serdadu itu bermukim dan menikah dengan orang Indonesia. Walau begitu, semangat warga Korea dalam melacak jejak Yang Chil Sung, tak pernah memudar.

Kim pun mengakui, banyak kawan seperjuangan Yang Chil Sung dari pasukan “Pangeran Papak”, turut menyusuri keberadaan almarhum. Lalu, Ushumi Aiko mengungkap identitas pejuang itu di dalam buku Korean Activity under the Equator (1980).
Baca Juga: Menegangkan..! Merebus Sepatu Lars Untuk Dimakan Ketika Merebut Irian Barat
Ternyata Yang Chil Sung diketahui mengamankan dirinya di balik nama Komarudin. Pejuang itu menolak dipulangkan ke negerinya, karena tidak mau menjadi tentara tawanan Jepang. Kesaksian R. Djuhana menuturkan, bahwa Komarudin datang ke Garut bersama tiga orang serdadu Jepang dari Bandung, yang berganti nama Abubakar, Ali, dan Usman – dokter di kalangan perwira Jepang.

Pasukan “Pangeran Papak” dan Hisbulloh pimpinan alm. KH Yusuf Taoziri yang kharismatik, membentengi perkotaan Garut dari serbuan Belanda.

“Setiap digempur musuh, pasukan kami tidak pernah tertangkap” kenang R Djuhana. Itu yang menyulut aksi Belanda mengerahkan kekuatan tempurnya hingga 4,5 batalyon, untuk menyerang pasukan Pangeran Papak yang hanya berkekuatan kurang dari satu batalyon. Pasukan gerilya pun terpaksa mundur.

Belanda menyebarkan mata-mata. Mereka mengintai pasukan gerilya itu, hingga Djuhana, Komarudin, Abubakar dan Usman tertangkap. “Saya masih ingat benar, waktu Komarudin ditawan Belanda itu lewat tengah malam, sekitar pukul 01.30” kata H Ajiji.

Dalam kesempatan terpisah, RS Harisenjaya yang pernah berdomisili di Kp Paminggir, dekat TPU Pasir Pogor Garut menuturkan, menjelang hukuman mati itu seorang petugas sipir dari rumah penjara Garut menjemput Lebe (penghulu).
Baca Juga: [Video] Saktinya Prajurit TNI, Sampai Bikin Tentara Negara Asing Melongo...
Ketiga serdadu Jepang yang dijumpai Lebe selepas Maghrib itu, diketahui mengenakan kampret putih dan kain sarung Cap “Padi” warna merah buatan Preanger Bond Wevery (PBW), yang dikenal kemudian sebagai Pabrik Tenun Garut (PTG).

Dua warna dalam penampilan ketiga terhukum itu, seolah simbol bendera Merah Putih. Mereka menyampaikan permintaan terakhir, agar esok hari setelah hukuman mati, jenazah mereka dimakamkan secara Islam.

Putaran detik jelang hukuman mati digelar,seakan bergulir lebih cepat dan memanggang ketegangan para pejuang. Suasana itu berpuncak pada pagi Pkl 06.00, saat rentetan tembakan terdengar memecah kesepian dari arah Lapang “Kherkoff”, di seberang Sungai Cimanuk.

Warga Kampung Pasir Pogor, lalu melihat tiga keranda berisi jenazah, yang masih terbungkus kampret putih dan sarung merah Cap Padi. Keranda beriringan diusung ke masjid setempat.

Saat-saat eksekusi berlangsung, R. Djuhana mengaku tengah menjalani hukuman seumur hidup di LP Cipinang, Jakarta. Sebaliknya, Eddy Jawan anak tunggal Yang Chil Sung, karyawan MKL Jakarta, baru mengetahui nasib dan kepahlawanan ayahnya, setelah berumur 18 tahun.
Baca Juga: Mengingat Pertempuran Sengit & Berdarah Kopassus Vs Tropaz, Pasukan "Bengis" Didikan Portugal.
“Waktu ayah saya ditembak mati, saya baru berumur satu tahun” kata Eddy Jawan, waktu menghadiri acara pergantian batu nisan almarhum ayahnya.

Usia 3 tahun, Eddy diantar Bik Koyoh yang merawatnya sejak kecil, ke lokasi makam Yang Chil Sung di TPU Pasir Pogor. Eddy mengaku tak pernah tahu lagi nasib Bik Koyoh, yang membesarkannya di Wanaraja, Garut, sampai usia 20 tahun.

Wanita itu pengganti figur ibunya, alm. Ny Lience Wenas, asal Sulawesi, yang menikah lagi di Bandung. Siapa sangka, jika drama kehidupan di balik kepahlawanan serdadu Korea itu, tergelar di tanah Garut.

Kejuangan alm. Komarudin alias Yang Chil Sung, Abubakar dan Usman dihargai sebagai pahlawan kemerdekaan Indonesia. Bukti atas penghargaan itu berupa pemindahan kerangka jenazah mereka dari TPU Pasir Pogor, ke TMP Tenjolaya,19 November 1975.

Putra Yang Chil-sung bersama keluarga dari Korea pada upacara peresmian penggantian nisan Yang Chol-sung, 1995
Kehormatan untuk kepahlawanan itu dikuatkan lagi dengan pergantian batu nisan, yang disaksikan Eddy Jawan, Choi Gye Wol (Pemimpin Kodeco Group), 20 anggota keluarga Yang Chil Sung dari Korea, dan staf Kedutaan Besar Korea Selatan di Indonesia.
Baca Juga: Mengharukan..! Ketika Linangan Air Mata Bung Karno Iringi Tanda Tangan Vonis Mati Untuk Sang Sahabat Karib
Kini, nama Yang Chil Sung terukir pada batu nisan Komarudin. Saat acara pergantian batu nisan, Panglima Kodam III/Siliwangi Mayjen TNI Tayo Tarmadi, dalam sambutan tertulisnya menilai, kejuangan Komarudin cermin bening dan realistis dalam menumpas penjajah dan penindasan, yang mampu melintas batas lautan.

Komarudin pantas mewarnai sejarah perjuangan kemerdekaan. Puncak pengorbanan serdadu Korea itu, tersimpan di dalam perut bumi Garut.

Sumber: Yoyo Dasriyo | fokusjabar.com